Lebih Sering Membuka Chatbot daripada Menghubungi Teman, Bagaimana Dampaknya pada Relasi Sosial?

Lebih Sering Membuka Chatbot daripada Menghubungi Teman, Bagaimana Dampaknya pada Relasi Sosial?

14 Oktober 2026 | 13:50

KebonCinta.com - Ada cerita yang ingin disampaikan, tetapi pesan kepada teman belum juga dikirim.

 Sebagai gantinya, seseorang membuka chatbot dan mulai mengetik. Respons datang cepat, percakapan bisa berlangsung kapan saja, dan pengguna tidak perlu menunggu orang lain memiliki waktu luang.

Kemudahan ini dapat terasa membantu. Namun, ketika membuka chatbot semakin sering menggantikan kesempatan menghubungi teman, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan. 

Persoalannya bukan sekadar durasi menatap layar, melainkan ruang yang masih tersedia untuk menjaga hubungan dengan orang lain.

Baca Juga: AI Tak Cuma Butuh Chip, Komdigi Sebut Nikel dan Tembaga Indonesia Bisa Jadi Modal Besar Industri Kecerdasan Buatan 

Curhat kepada Chatbot Bisa Menggeser Interaksi Sosial

Dalam bahan pemberitaan Republika, pakar psikologi klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Muhammad Arif Rizai, mengingatkan bahwa kenyamanan berinteraksi dengan AI berisiko mengurangi kesempatan membangun relasi sosial secara langsung.

Risiko itu dapat muncul ketika percakapan digital menjadi pilihan utama setiap kali seseorang ingin bercerita. Pesan kepada teman terus ditunda, ajakan bertemu semakin jarang diterima, atau kabar dari keluarga tidak lagi ditanggapi dengan perhatian yang sama.

Contoh tersebut bukan bukti bahwa penggunaan chatbot pasti merusak hubungan. Namun, perubahan kebiasaan bisa menjadi bahan refleksi: apakah AI membantu seseorang tetap terhubung, atau justru mengambil waktu yang sebelumnya digunakan untuk berinteraksi?

Baca Juga: Cara Memanfaatkan Kecerdasan Buatan Tanpa Kehilangan Sentuhan Manusiawimu 

Dampak Chatbot pada Relasi Sosial Tidak Seragam

Penelitian MIT Media Lab bersama OpenAI selama empat minggu melibatkan 981 peserta dan mengamati kesepian, interaksi dengan manusia, ketergantungan emosional, serta penggunaan AI bermasalah.

Peserta yang secara sukarela menggunakan chatbot lebih banyak menunjukkan hasil psikososial yang lebih buruk.

 Namun, hubungan antara intensitas penggunaan dan hasil tersebut tidak membuktikan bahwa chatbot menjadi penyebabnya. Kondisi awal dan karakteristik pengguna juga perlu dipertimbangkan.

Peneliti turut mengingatkan agar hasilnya tidak digeneralisasi. Penelitian berfokus pada percakapan berbahasa Inggris dengan peserta di Amerika Serikat, sehingga pengalaman pengguna dalam lingkungan sosial lain bisa berbeda.

Baca Juga: Dead Internet Theory: Benarkah Internet Kini Lebih Banyak Diisi Kecerdasan buatan daripada Manusia? 

Menjaga Relasi Sosial di Tengah Kebiasaan Menggunakan Chatbot

Menjaga hubungan tidak selalu membutuhkan percakapan panjang. Mengirim kabar singkat, menanyakan keadaan teman, atau meluangkan waktu makan bersama dapat menjadi langkah sederhana untuk mempertahankan komunikasi.

Chatbot juga bisa digunakan sebagai persiapan sebelum menghubungi seseorang. Misalnya, membantu menyusun pesan ketika pengguna kesulitan memulai percakapan. Setelah itu, pesan tetap disampaikan kepada orang yang dituju.

Perhatikan pula apakah penggunaan chatbot membuat rencana bertemu terus tertunda. Jika demikian, sisihkan waktu khusus untuk berinteraksi dan kurangi percakapan digital yang menghabiskan waktu tersebut.

Baca Juga: Kecerdasan Buatan dan Krisis Identitas: Apa yang Tersisa Jika AI Bisa Melakukan Segalanya? 

Arif menekankan bahwa teknologi perlu ditempatkan sebagai alat bantu. Dalam konteks relasi sosial, prinsip ini berarti menyediakan ruang bagi AI sambil tetap merawat komunikasi dengan teman dan keluarga.

Tags:
Chatbot AI Relasi sosial

Komentar Pengguna