KebonCinta.com — Sebanyak delapan mahasiswa Universitas Pertahanan Republik Indonesia ikut mendampingi siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Pendampingan tersebut difokuskan pada penguatan kedisiplinan, kemandirian serta kebiasaan hidup tertib bagi siswa.
Mahasiswa Unhan tiba bersama seorang pendamping pada 9 Oktober 2026.
Kegiatan kemudian mulai dilaksanakan pada 12 Oktober melalui apel pagi dan pengenalan kepada para siswa.
Peserta pendampingan berasal dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pati saat ini menampung total 320 siswa.
Jumlah tersebut terdiri atas 46 siswa SD, 183 siswa SMP dan 91 siswa SMA.
Seluruh siswa tinggal di asrama sesuai dengan jenjang pendidikan masing-masing.
“Materi pelatihan meliputi kedisiplinan, PBB, kesehatan diri, kebersihan asrama, etika serta sopan santun,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Fachrudin Dwi Saputro.
Pelatihan tidak hanya diberikan melalui penjelasan secara teori.
Baca Juga: Perbedaan Aqiqah dan Kurban dari Tujuan, Waktu, dan Pembagian Daging
Siswa juga diajak melakukan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam asrama misalnya, mahasiswa Unhan mengajarkan siswa bagaimana menata tempat tidur.
Siswa juga dibimbing merapikan pakaian di lemari dan menjaga kondisi kamar tetap bersih.
Kebiasaan bangun tepat waktu menjadi bagian dari pembentukan disiplin.
Anak juga didorong bertanggung jawab terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.
Pelatihan Peraturan Baris-Berbaris atau PBB dilakukan secara bertahap.
Materinya mulai dari gerakan dasar di tempat hingga gerakan berjalan dan berhenti.
Siswa juga mendapatkan pelatihan mengenai tata cara pelaksanaan upacara pengibaran bendera.
Kegiatan tersebut diharapkan membuat siswa semakin siap ketika mendapatkan tugas pada upacara sekolah.
Sekolah Rakyat sendiri menggunakan sistem pendidikan berasrama.
Karena siswa tinggal bersama dalam waktu yang panjang, keterampilan mengatur diri menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Anak tidak hanya belajar mata pelajaran di kelas.
Mereka juga harus belajar menjaga barang, lingkungan dan jadwal sehari-hari secara mandiri.
Kegiatan keagamaan turut menjadi bagian dari pembiasaan sekolah.
Siswa menjalankan kegiatan berdasarkan agama masing-masing.
Untuk siswa Muslim misalnya, terdapat pembiasaan salat berjamaah dan kegiatan mengaji.
Sekolah juga merencanakan pengembangan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk membantu siswa menemukan potensi.
Mahasiswa Unhan yang terlibat juga mendapatkan pengalaman baru dalam memahami karakter siswa dengan usia dan kemampuan berbeda.
Pendampingan dijadwalkan berlangsung hingga 25 Oktober 2026.
Waktu tersebut digunakan untuk membangun kebiasaan yang diharapkan tetap diterapkan siswa setelah program selesai.
Pendidikan karakter memang tidak dapat dibentuk hanya melalui satu kali pelatihan.
Kedisiplinan dan kemandirian membutuhkan proses yang terus dilakukan sampai berubah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Kolaborasi mahasiswa dan Sekolah Rakyat di Pati menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi dapat ikut terlibat langsung dalam proses pendidikan masyarakat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir