Remaja
Rahman Abdullah

Media Sosial Berlebihan Bisa Ganggu Mental Remaja, Kenali 6 Dampak yang Perlu Diwaspadai

Media Sosial Berlebihan Bisa Ganggu Mental Remaja, Kenali 6 Dampak yang Perlu Diwaspadai

13 Oktober 2026 | 13:08

KebonCinta.com-- Media sosial memudahkan remaja untuk berkomunikasi, mencari pengetahuan, dan menunjukkan kreativitas. Namun, ketika aktivitas di dunia digital mulai menyita terlalu banyak waktu, ada hal penting yang tidak boleh diabaikan, yaitu kesehatan mental.

Kebiasaan melihat unggahan orang lain selama berjam-jam dapat memicu perasaan tertinggal, kurang percaya diri, hingga kecemasan. Di sisi lain, komentar negatif, perundungan daring, dan kebiasaan menggunakan ponsel sampai larut malam juga bisa memengaruhi kenyamanan psikologis serta rutinitas sehari-hari.

Bukan berarti remaja harus menjauhi media sosial sepenuhnya. Tantangannya adalah mengenali kapan penggunaan platform digital masih memberikan manfaat dan kapan kebiasaan tersebut mulai mengganggu kehidupan nyata.

Lantas, apa saja dampak penggunaan media sosial berlebihan terhadap kesehatan mental remaja dan bagaimana cara menguranginya?

Baca Juga: Cara Mengatur Pola Makan Diabetes, dari Sayuran hingga Buah yang Tepat 

1. Remaja lebih mudah merasa cemas dan tertinggal

Melihat teman sebaya membagikan pencapaian, liburan, penampilan menarik, atau pengalaman menyenangkan dapat membuat sebagian remaja merasa kehidupannya tidak sebaik orang lain.

Perasaan tersebut bisa muncul karena media sosial mendorong seseorang untuk terus memperhatikan apa yang dilakukan orang lain. Remaja mungkin merasa tertinggal ketika melihat teman mendapatkan banyak perhatian, memiliki barang baru, atau mencapai sesuatu yang belum mereka raih.

Padahal, unggahan di internet tidak selalu menggambarkan kehidupan secara utuh. Pengguna biasanya memilih momen tertentu untuk dibagikan, sehingga kesulitan dan masalah yang mereka hadapi belum tentu terlihat.

Jika kebiasaan membandingkan diri terus berlangsung, remaja dapat merasa gelisah dan sulit menghargai pencapaian sendiri. Karena itu, penting untuk memahami bahwa perjalanan hidup setiap orang berbeda dan tidak harus mengikuti standar yang muncul di media sosial.

2. Kepercayaan diri bisa menurun karena standar yang tidak realistis

Foto yang telah diedit, tren penampilan, hingga gaya hidup influencer dapat membentuk gambaran tertentu tentang bagaimana seseorang dianggap menarik atau berhasil.

Remaja yang terus-menerus terpapar konten semacam ini mungkin merasa harus memiliki penampilan, barang, atau pencapaian yang sama agar diterima oleh lingkungan sosialnya.

Tekanan tersebut berpotensi membuat mereka terlalu fokus pada penilaian orang lain. Jumlah tanda suka, komentar, dan pengikut bahkan bisa menjadi ukuran untuk menilai harga diri.

Padahal, nilai seseorang tidak ditentukan oleh popularitas di internet. Membatasi paparan konten yang memicu rasa rendah diri dan mengikuti akun yang memberikan informasi positif dapat membantu menciptakan pengalaman bermedia sosial yang lebih sehat.

Baca Juga: 4 Gerakan Olahraga di Rumah untuk Pemula, Tanpa Alat Gym dan Mudah Dilakukan 

3. Cyberbullying dapat menimbulkan tekanan psikologis

Perundungan tidak hanya terjadi di sekolah atau lingkungan pertemanan secara langsung. Di dunia digital, tindakan seperti menghina, mempermalukan, menyebarkan rumor, atau mengirim pesan bernada ancaman juga dapat menyakiti seseorang.

Cyberbullying bisa terasa sulit dihindari karena komentar atau unggahan yang merugikan dapat menyebar dengan cepat dan dilihat banyak orang. Pengalaman tersebut dapat membuat remaja merasa malu, takut, terisolasi, atau kehilangan rasa aman.

Jika mengalami perundungan daring, remaja tidak perlu menghadapi masalah tersebut sendirian. Mereka dapat menyimpan bukti yang diperlukan, memblokir atau melaporkan akun pelaku, serta meminta bantuan orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya.

Lingkungan keluarga dan sekolah juga perlu memberikan ruang aman agar remaja berani bercerita tanpa takut disalahkan.

4. Penggunaan media sosial bisa mengganggu kualitas tidur

Kebiasaan membuka aplikasi sebelum tidur sering membuat waktu istirahat tertunda. Awalnya hanya ingin melihat satu video atau membalas pesan, tetapi aktivitas tersebut dapat berlanjut hingga larut malam.

Notifikasi yang terus muncul juga dapat mendorong remaja memeriksa ponsel berulang kali. Akibatnya, waktu tidur berkurang dan tubuh tidak memperoleh istirahat yang cukup.

Kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, daya ingat, serta kesiapan mengikuti kegiatan belajar. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini juga dapat membuat remaja lebih sulit mengelola emosi dan menghadapi tekanan sehari-hari.

Untuk mengatasinya, remaja dapat menetapkan waktu berhenti menggunakan ponsel sebelum tidur, menonaktifkan notifikasi yang tidak penting, dan menjauhkan perangkat dari tempat tidur.

5. Risiko penipuan dan kejahatan digital ikut meningkat

Dampak penggunaan media sosial tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Kesehatan Mental Remaja Media Sosial

Komentar Pengguna