KebonCinta.com — Pembelajaran bahasa daerah di sekolah dinilai tidak cukup apabila hanya berhenti sebagai mata pelajaran muatan lokal.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mendorong penggunaan bahasa daerah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan ketika membuka Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI Jawa Tengah 2026 di Kabupaten Semarang.
“Itu sangat penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah membiasakan menggunakan bahasa daerah,” ujar Abdul Mu'ti.
Menurutnya, bahasa akan tetap hidup apabila digunakan secara rutin oleh masyarakat.
Pembiasaan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat dengan anak, yakni keluarga.
Orang tua dapat menggunakan bahasa daerah ketika berkomunikasi di rumah sesuai konteks dan kemampuan anak.
Penggunaan bahasa daerah juga dapat dilakukan dalam kegiatan masyarakat maupun forum yang diselenggarakan pemerintah.
“Karena bahasa itu soal kebiasaan dan soal pembiasaan,” kata Abdul Mu'ti.
Ia menyoroti generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi global.
Generasi Z maupun Alpha semakin mudah mengenal berbagai budaya dari luar melalui media sosial dan internet.
Kondisi tersebut memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan terhadap keberlangsungan budaya dan bahasa lokal.
Karena itu, sekolah mempunyai peran penting untuk membuat anak tetap mengenal bahasa ibu.
Namun pembelajaran tidak harus selalu berupa hafalan maupun teori tata bahasa.
Siswa dapat diperkenalkan melalui dongeng, pidato, cerita pendek, kesenian hingga berbagai kegiatan kreatif.
FTBI Jawa Tengah 2026 menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut.
Kegiatan diikuti sekitar 490 siswa SD dan SMP serta 70 pendamping dari berbagai wilayah Jawa Tengah.
Dengan demikian, jumlah keseluruhan peserta dan pendamping mencapai sekitar 560 orang.
Terdapat tujuh jenis lomba dalam festival tersebut.
Baca Juga: Berapa Jarak Sebenarnya dari Dua Kota? Pelajari Rumus Skala Peta Lewat Contoh Soal
Di antaranya menulis dan membaca aksara Jawa, mendongeng, berpidato, menulis cerkak, membaca geguritan, nembang macapat hingga komedi tunggal.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin menilai pendekatan festival dapat membantu menumbuhkan kebanggaan siswa menggunakan bahasa daerah.
Penggunaan bahasa ibu pada kelas awal juga dinilai dapat membantu anak memahami pembelajaran secara lebih kontekstual.
Bahasa daerah sendiri bukan pesaing bagi Bahasa Indonesia.
Keduanya mempunyai fungsi yang dapat berjalan bersama.
Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, sementara bahasa daerah menjadi bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat.
Upaya mempertahankan bahasa daerah karena itu membutuhkan keterlibatan sekolah, pemerintah, keluarga dan masyarakat.
Jika bahasa hanya dipelajari ketika ujian tetapi tidak pernah digunakan, kemampuan generasi berikutnya berpotensi semakin berkurang.
Sebaliknya, ketika anak mendengar dan menggunakan bahasa tersebut secara alami, peluang bahasa daerah untuk tetap bertahan akan semakin besar.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir