Khazanah
M. Panji Maulana

Mengapa Hari Santri Diperingati pada 22 Oktober? Mengenal Resolusi Jihad dan Latar Sejarahnya

Mengapa Hari Santri Diperingati pada 22 Oktober? Mengenal Resolusi Jihad dan Latar Sejarahnya

19 Oktober 2026 | 19:31

keboncinta.com- Setiap tanggal 22 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi ulama, santri, dan pondok pesantren dalam sejarah perjuangan bangsa.

Namun, pernahkah muncul pertanyaan mengapa Hari Santri diperingati pada 22 Oktober, bukan pada tanggal berdirinya pesantren atau organisasi Islam tertentu?

Pemilihan tanggal tersebut ternyata berkaitan erat dengan peristiwa bersejarah pada 22 Oktober 1945, ketika para ulama menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa tersebut berlangsung ketika Republik Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaannya menghadapi ancaman kedatangan kembali kekuatan kolonial.

Lantas, apa itu Resolusi Jihad, bagaimana peran KH Hasyim Asy'ari, dan apa hubungannya dengan Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945?

Mengapa Hari Santri Diperingati Setiap 22 Oktober?

Hari Santri diperingati pada 22 Oktober karena tanggal tersebut merujuk pada Resolusi Jihad yang diserukan para ulama dan santri pada 22 Oktober 1945.

Resolusi Jihad menjadi salah satu tonggak penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah kemudian menetapkan tanggal tersebut melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Keputusan itu ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

Dalam pertimbangannya, pemerintah mengakui besarnya peran ulama dan santri dalam merebut, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

Penetapan Hari Santri dimaksudkan untuk mengenang dan meneladani kontribusi tersebut.

Latar Belakang Sejarah Resolusi Jihad 1945

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, situasi politik dan keamanan belum sepenuhnya stabil.

Jepang telah menyerah kepada Sekutu, sementara pasukan Sekutu mulai memasuki sejumlah wilayah Indonesia.

Kedatangan Sekutu juga disertai unsur pemerintahan sipil Belanda atau NICA, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai upaya pemulihan kekuasaan kolonial.

Dalam keadaan tersebut, rakyat Indonesia menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.

Para ulama dan tokoh pesantren turut mengambil sikap.

Mereka memandang bahwa mempertahankan kemerdekaan bukan hanya persoalan politik, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga tanah air dan masyarakat.

Dari latar sejarah tersebut, lahirlah seruan Resolusi Jihad pada Oktober 1945.

Apa Itu Resolusi Jihad?

Resolusi Jihad merupakan seruan para ulama yang menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman penjajahan kembali.

Resolusi ini berkaitan dengan musyawarah ulama Nahdlatul Ulama di Surabaya pada Oktober 1945.

Isi pokoknya menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan dan pemerintahan Republik Indonesia yang sah wajib dibela.

Seruan tersebut juga menggerakkan umat Islam untuk mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan berdasarkan keadaan dan tanggung jawab masing-masing.

Dalam konteks sejarah, Resolusi Jihad merupakan respons terhadap ancaman militer dan kolonialisme pada masa awal kemerdekaan.

Karena itu, peristiwa tersebut perlu dipahami berdasarkan kondisi sejarah tahun 1945, bukan dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Peran KH Hasyim Asy'ari dalam Resolusi Jihad

Salah satu tokoh penting dalam sejarah Resolusi Jihad adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus ulama yang mempunyai pengaruh besar di lingkungan pesantren.

Beliau dikenal sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, dan mempunyai hubungan keilmuan dengan banyak kiai di Jawa serta wilayah lainnya.

Dalam situasi genting setelah kemerdekaan, KH Hasyim Asy'ari berperan penting dalam memberikan landasan keagamaan bagi perjuangan mempertahankan Republik Indonesia.

Perumusan sikap tersebut juga melibatkan para ulama lainnya, termasuk KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri.

Dengan demikian, Resolusi Jihad tidak dapat dipisahkan dari kerja bersama para tokoh dan jaringan pesantren.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia juga mendapat dukungan dari lembaga keagamaan dan masyarakat pesantren.

Hubungan Resolusi Jihad dengan Pertempuran 10 November 1945

Sebagian masyarakat masih menganggap Resolusi Jihad dan Pertempuran Surabaya terjadi pada tanggal yang sama.

Padahal, keduanya merupakan peristiwa berbeda yang saling berkaitan dalam rangkaian sejarah mempertahankan kemerdekaan.

Berikut kronologi singkatnya.

TanggalPeristiwa
17 Agustus 1945Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
22 Oktober 1945Resolusi Jihad yang menjadi dasar tanggal Hari Santri
10 November 1945Pertempuran besar di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan
15 Oktober 2015Penetapan Keppres Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri
22 Oktober 2015Peringatan Hari Santri secara nasional setelah penetapan pemerintah

Resolusi Jihad berperan dalam membangkitkan semangat perjuangan umat Islam, termasuk jaringan santri dan ulama.

Semangat tersebut menjadi bagian dari mobilisasi masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan, termasuk pada peristiwa pertempuran di Surabaya.

Namun, Pertempuran 10 November mempunyai latar belakang yang lebih luas dan melibatkan berbagai unsur rakyat, pejuang, serta organisasi perjuangan.

Dengan demikian, 22 Oktober memperingati Resolusi Jihad, sedangkan 10 November memperingati Hari Pahlawan.

Keduanya mengingatkan masyarakat tentang perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: 7 Ide Drama Pendek Hari Santri 2026 untuk Pentas Sekolah dan Pesantren, Lengkap dengan Tema Cerita

Sejak Kapan Hari Santri Menjadi Peringatan Nasional?

Hari Santri secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Keputusan tersebut mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, yakni 15 Oktober 2015.

Pada 22 Oktober tahun yang sama, Presiden Joko Widodo mendeklarasikan Hari Santri dalam kegiatan yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Meskipun diperingati secara nasional, Hari Santri bukan merupakan hari libur nasional berdasarkan ketentuan dalam Keppres tersebut.

Sekolah, madrasah, dan pondok pesantren dapat menyelenggarakan peringatan melalui kegiatan pendidikan, keagamaan, maupun sosial sesuai ketentuan yang berlaku.

Makna Hari Santri bagi Generasi Sekarang

Hari Santri bukan hanya kesempatan mengenang perjuangan masa lalu.

Peringatan ini juga mengajak generasi muda untuk memahami bahwa kontribusi terhadap bangsa dapat dilakukan melalui pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, santri dan ulama menghadapi ancaman penjajahan.

Sementara pada masa sekarang, tantangan yang dihadapi berbeda, seperti peningkatan kualitas pendidikan, perkembangan teknologi, persoalan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Semangat tanggung jawab, persatuan, serta keberanian mengambil peran tetap relevan untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.

Tema Hari Santri Nasional 2026

Pada tahun 2026, Hari Santri diperingati pada Kamis, 22 Oktober.

Kementerian Agama menetapkan tema:

"Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas."

Tema tersebut menekankan pentingnya santri mengembangkan ilmu, karakter, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Melalui tema ini, pesantren diharapkan terus berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dengan tetap menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai keagamaan.

Baca Juga: Hari Santri 2026 Resmi Punya Logo dan Tema, Ini Makna Setiap Unsurnya

Bagaimana Cara Mengenalkan Sejarah Hari Santri kepada Siswa?

Sekolah dan pesantren dapat mengenalkan sejarah Hari Santri melalui kegiatan yang sederhana dan menarik.

Guru dapat mengajak siswa membuat garis waktu perjuangan kemerdekaan, membaca kisah para ulama, atau mendiskusikan hubungan Resolusi Jihad dengan Pertempuran Surabaya.

Siswa juga dapat membuat poster sejarah, menulis refleksi, atau menampilkan drama pendek berdasarkan peristiwa perjuangan.

Jika kegiatan menggunakan dramatisasi sejarah, guru perlu membedakan fakta yang didukung sumber dengan dialog atau adegan rekaan.

Tujuannya agar siswa tidak hanya mengetahui tanggal peringatan, tetapi juga memahami makna sejarah di baliknya.

 

Tags:

Komentar Pengguna