keboncinta.com- Bagi santri yang baru memasuki pondok pesantren, mempelajari bahasa Arab merupakan salah satu langkah penting untuk memahami kitab kuning. Salah satu kitab dasar yang cukup dikenal dalam pembelajaran ilmu sharaf adalah Amtsilatut Tashrifiyah.
Kitab ini sering disebut sebagai kitab tasrifan karena berisi contoh-contoh perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab yang disusun secara sistematis.
Di sejumlah pesantren, santri mempelajarinya melalui pengulangan bacaan, hafalan, dan latihan bersama ustaz. Cara tersebut membantu mereka mengenali pola kata sebelum mempelajari teks Arab yang lebih rumit.
Namun, belajar Amtsilatut Tashrifiyah bukan sekadar menghafalkan rangkaian kata. Santri juga perlu memahami arti, fungsi, dan perubahan makna yang terjadi.
Lantas, siapa pengarang kitab ini, apa perbedaan tasrif istilahi dan lughawi, serta bagaimana contoh penerapannya?
Amtsilatut Tashrifiyah atau Al-Amtsilah At-Tashrifiyah merupakan kitab pengantar ilmu sharaf yang membahas perubahan bentuk kata bahasa Arab melalui berbagai contoh.
Secara sederhana, ilmu sharaf mempelajari pola dan perubahan bentuk kata yang berpengaruh terhadap makna serta fungsi kebahasaannya.
Misalnya, kata Arab yang bermakna "telah menulis" dapat diubah menjadi bentuk yang menunjukkan kegiatan sedang atau akan berlangsung, pelaku, hingga sesuatu yang dikenai pekerjaan.
Dalam pembelajaran pesantren, perubahan tersebut dikenal dengan istilah tasrif.
Penelitian berjudul Tashrifan Jombang: Telaah Epistemologi Kitab Al-Amtsilah Al-Tashrifiyah Karya Kyai Ma'shum Bin Ali, yang diterbitkan Jurnal Muróbbî pada 2022, menjelaskan bahwa kitab ini menyajikan contoh tasrif melalui dua bagian utama, yaitu istilahi dan lughawi.
Kitab Amtsilatut Tashrifiyah disusun oleh KH Muhammad Ma'shum bin Ali, ulama Nusantara yang dikenal melalui kontribusinya dalam bidang bahasa Arab dan pendidikan pesantren.
Beliau mempunyai hubungan erat dengan tradisi keilmuan pesantren di Jombang, Jawa Timur.
Karya tersebut menjadi salah satu bahan pembelajaran sharaf karena menampilkan pola perubahan kata melalui contoh yang mudah diikuti.
Susunannya membantu santri mempelajari bentuk kata secara bertahap, mulai dari pola dasar hingga bentuk yang lebih kompleks.
Setidaknya terdapat empat manfaat penting dalam mempelajari kitab ini.
Pertama, membantu santri mengenali bentuk kata kerja dan kata benda dalam bahasa Arab.
Kedua, memperkenalkan perubahan makna berdasarkan pola kata.
Ketiga, mendukung kemampuan membaca kitab kuning yang umumnya menggunakan teks Arab tanpa harakat.
Keempat, menjadi bekal untuk mempelajari ilmu nahwu dan memahami susunan kalimat secara lebih mendalam.
Ilmu sharaf dan nahwu saling melengkapi. Sharaf menitikberatkan pembentukan dan perubahan kata, sedangkan nahwu membahas kedudukan kata dalam kalimat serta ketentuan gramatikal yang berkaitan dengannya.
Baca Juga: Bahasa Arab Punya Banyak Manfaat, Tidak Hanya untuk Memahami Teks Keagamaan
Tasrif istilahi merupakan perubahan suatu kata menjadi beberapa bentuk berdasarkan fungsi dan maknanya.
Misalnya, kata kerja dapat diubah menjadi bentuk yang menunjukkan pelaku atau hasil suatu pekerjaan.
Dalam pembelajaran dasar, santri mengenal istilah seperti fi'il madhi, fi'il mudhari', mashdar, isim fa'il, dan isim maf'ul.
Tasrif lughawi merupakan perubahan bentuk kata berdasarkan pelaku atau subjeknya.
Perubahan tersebut dapat menunjukkan orang pertama, kedua, atau ketiga, jumlah tunggal, dua, maupun jamak, serta kategori maskulin dan feminin.
Contohnya, bentuk kata kerja yang digunakan untuk "dia laki-laki" berbeda dari kata kerja yang digunakan untuk "mereka laki-laki".
Dengan memahami kedua jenis tasrif, santri dapat membedakan perubahan fungsi kata dan perubahan yang berkaitan dengan subjeknya.
Salah satu contoh sederhana adalah kata كَتَبَ (kataba) yang berarti "telah menulis".
Perhatikan perubahan berikut:
| Bentuk | Bahasa Arab | Arti |
|---|---|---|
| Fi'il madhi | كَتَبَ | Telah menulis |
| Fi'il mudhari' | يَكْتُبُ | Sedang/akan menulis |
| Mashdar | كِتَابَةً | Penulisan |
| Isim fa'il | كَاتِبٌ | Penulis |
| Isim maf'ul | مَكْتُوبٌ | Yang ditulis/tertulis |
| Fi'il amr | اُكْتُبْ | Tulislah! |
| Fi'il nahi | لَا تَكْتُبْ | Jangan menulis! |
Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana satu akar kata dapat menghasilkan bentuk dan makna yang berbeda.
Namun, tabel ini merupakan contoh pengantar, bukan seluruh rangkaian tasrif istilahi yang terdapat dalam kitab.
Tasrif lughawi dapat dipelajari melalui perubahan kata kerja berdasarkan pelakunya.
Contohnya:
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa bentuk kata kerja berubah mengikuti subjeknya.
Dalam pembelajaran lanjutan, santri juga mempelajari perubahan berdasarkan 14 dhamir serta bentuk kata kerja lainnya.
Dua istilah lain yang perlu dikenal adalah wazan dan mauzun.
Wazan merupakan pola atau timbangan kata, sedangkan mauzun adalah kata yang mengikuti pola tersebut.
Misalnya, pola فَعَلَ dapat digunakan untuk mengenali susunan kata كَتَبَ.
Melalui perbandingan pola, santri belajar memahami perubahan huruf dan harakat pada berbagai bentuk kata.
Namun, tidak semua kata Arab mengikuti perubahan yang sama persis. Terdapat kelompok kata kerja dengan karakteristik khusus yang membutuhkan pembahasan tambahan.
Santri dapat mulai dengan satu kelompok kata sebelum berpindah ke kelompok berikutnya.
Langkah pertama adalah membaca contoh bersama guru untuk memastikan ketepatan harakat dan pelafalan.
Kemudian, hafalkan beberapa bentuk dasar sekaligus memahami artinya.
Setelah itu, gunakan kartu kata untuk mencocokkan bentuk bahasa Arab dengan maknanya.
Sebagai latihan, guru dapat menunjukkan كَاتِبٌ dan meminta santri menjelaskan hubungannya dengan كَتَبَ.
Santri juga dapat berlatih mengubah bentuk kata berdasarkan dhamir yang disebutkan guru.
Baca Juga: Mengenal Metode Sorogan dan Bandongan dalam Pendidikan Pesantren
Kesalahan umum adalah menghafalkan tasrif dengan cepat tanpa memahami perubahan maknanya.
Sebagian santri juga tertukar antara tasrif istilahi dan lughawi.
Kesalahan lainnya adalah menganggap semua kata kerja mengikuti satu pola yang sama.
Untuk mengatasinya, santri perlu mengulang contoh secara bertahap, menuliskan bentuk kata, serta meminta koreksi guru.
Pengulangan yang disertai pemahaman akan lebih bermanfaat daripada hanya mengejar banyaknya hafalan.
Kitab Amtsilatut Tashrifiyah dapat menjadi fondasi penting bagi santri yang ingin mempelajari bahasa Arab dan membaca kitab kuning.
Dengan latihan yang teratur, pemahaman pola kata, serta bimbingan ustaz, santri dapat mengembangkan kemampuan mengenali bentuk bahasa Arab sebelum melanjutkan ke pembahasan yang lebih kompleks.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir