Khazanah
M. Panji Maulana

Mengenal Nyai Ahmad Dahlan: Peran Siti Walidah dalam Pendidikan Perempuan

Mengenal Nyai Ahmad Dahlan: Peran Siti Walidah dalam Pendidikan Perempuan

16 Oktober 2026 | 13:00

keboncinta.com- Siti Walidah, yang dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan perempuan dan gerakan Islam di Indonesia. Namanya berkaitan erat dengan perintisan pengajian perempuan yang kemudian berkembang menjadi ‘Aisyiyah, organisasi perempuan dalam lingkungan Muhammadiyah.

Peran Siti Walidah menarik dipelajari bukan semata karena ia merupakan istri KH Ahmad Dahlan. Kiprahnya menunjukkan bahwa perempuan dapat berkontribusi dalam pendidikan, organisasi, dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan yang dirancang secara berkelanjutan.

Siapa Nyai Ahmad Dahlan?

Siti Walidah berasal dari lingkungan Kauman, Yogyakarta, yang memiliki tradisi pendidikan agama. Ia hidup dalam periode ketika kesempatan pendidikan formal bagi banyak perempuan masih terbatas. Bersama keluarga dan lingkungan gerakan pembaruan Islam, ia berusaha memperluas ruang belajar bagi kaum perempuan.

Profil resmi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah tentang Nyai Ahmad Dahlan memuat perjalanan hidupnya dan keterkaitan dengan aktivitas pengajian serta perkembangan ‘Aisyiyah. Rujukan organisasi tersebut penting karena banyak cerita sejarah populer menyederhanakan perannya hanya menjadi pendamping suami.

Pengajian Sopo Tresno sebagai Ruang Belajar

Sopo Tresno dikenal sebagai kelompok pengajian perempuan yang dirintis dalam lingkungan gerakan yang melahirkan ‘Aisyiyah. Melalui kegiatan semacam ini, para peserta memperoleh kesempatan mempelajari ajaran agama, membaca, berdiskusi, serta membangun kebiasaan berorganisasi.

Kebutuhan pendidikan perempuan ketika itu tidak berhenti pada kemampuan membaca kitab atau memahami ibadah. Pengajian juga membuka ruang untuk memperkuat kepercayaan diri dan keberanian berperan dalam kehidupan sosial.

Penting dicatat, kegiatan Sopo Tresno bukan organisasi ‘Aisyiyah dalam bentuk yang sudah matang sejak awal. Perkembangannya melalui tahapan hingga menjadi organisasi formal pada 1917.

Hubungan Siti Walidah dengan Berdirinya ‘Aisyiyah

Pada 1917, perkumpulan yang berkembang dari Sopo Tresno menjadi organisasi perempuan bernama ‘Aisyiyah. Siti Walidah memiliki peran perintis yang besar, tetapi ketua pertama ‘Aisyiyah bukan Siti Walidah, melainkan Siti Bariyah. Detail ini ditegaskan dalam keterangan resmi ‘Aisyiyah.

Pembedaan tersebut penting saat menulis biografi. Seseorang dapat menjadi penggerak utama sebuah gagasan tanpa harus menempati posisi ketua pertama organisasi yang tumbuh dari gagasan itu.

Baca Juga: Pendidikan Inklusif Jadi Fokus Pemerintah, Anak Disabilitas Dapat Kesempatan Setara

Perjuangan Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan

Gerakan pendidikan perempuan yang diperjuangkan Siti Walidah menempatkan ilmu sebagai bekal untuk kehidupan keluarga dan masyarakat. Belajar agama, keterampilan, serta pengelolaan kegiatan sosial menjadi bagian yang dapat memperluas kesempatan perempuan untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Dalam perkembangannya, ‘Aisyiyah mengelola berbagai kegiatan pendidikan, sosial, kesehatan, dan penguatan masyarakat. Walaupun banyak program muncul jauh setelah masa Siti Walidah, semangat memperluas akses belajar perempuan menjadi salah satu benang merah yang dapat dipelajari dari sejarahnya.

Mengapa Perannya Penting dalam Sejarah Indonesia?

Siti Walidah memperlihatkan bahwa pembaruan pendidikan dapat berlangsung melalui ruang pengajian sederhana yang konsisten. Ketika peserta menjadi lebih percaya diri, mereka dapat berperan sebagai pengajar, pengelola kegiatan, dan penggerak di lingkungan masing-masing.

Hal ini berguna untuk memahami sejarah pendidikan Indonesia dari sudut yang lebih luas. Pendidikan tidak hanya tumbuh melalui sekolah formal, tetapi juga melalui kelompok belajar, organisasi masyarakat, pengajian, dan gerakan perempuan.

Baca Juga: UMY Terjunkan 1.817 Mahasiswa KKN, Pengabdian Menjangkau Malaysia hingga Mesir

Teladan Siti Walidah bagi Guru dan Pelajar

Guru dapat menggunakan kisahnya sebagai contoh bagaimana pendidikan dibangun melalui kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam pembelajaran sejarah, siswa bisa diminta membuat garis waktu dari pengajian Sopo Tresno, perubahan menjadi ‘Aisyiyah, hingga perkembangan kegiatan pendidikan perempuan.

Pertanyaan lanjutan yang dapat dibahas ialah mengapa kesempatan belajar bagi perempuan masih perlu diperjuangkan pada masa itu, dan bagaimana organisasi masyarakat dapat mendukung akses pendidikan sekarang. Dengan cara ini, pembahasan biografi tidak berhenti pada hafalan nama dan tanggal.

Tags:
Siti Walidah Nyai Ahmad Dahlan Aisyiyah Muhammadiyah pendidikan perempuan Sopo Tresno

Komentar Pengguna