Pengalaman tersebut dapat membantu anak muda menentukan apakah ingin memperdalam profesi tertentu, mengembangkan usaha, atau berpindah ke bidang pekerjaan yang berbeda.
Meski menawarkan fleksibilitas, pendekatan ini tetap membutuhkan tujuan yang jelas agar berbagai aktivitas tidak berjalan tanpa arah.
Di balik fleksibilitasnya, portfolio career memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah manajemen waktu.
Menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus berarti seseorang harus membagi perhatian di antara berbagai tanggung jawab. Tanpa perencanaan yang baik, pekerjaan dapat menumpuk dan waktu istirahat berkurang.
Tantangan lainnya adalah pendapatan yang tidak selalu stabil. Proyek freelance dapat berakhir, jumlah pelanggan bisa berubah, dan bisnis membutuhkan waktu untuk berkembang.
Selain itu, pekerja yang menjalankan beberapa peran perlu memperhatikan perjanjian kerja, potensi konflik kepentingan, kewajiban pajak, serta aturan perusahaan yang berlaku.
Untuk mengurangi risiko tersebut, penting menetapkan jadwal yang realistis, menyusun prioritas, dan mengevaluasi manfaat setiap pekerjaan secara berkala.
Di tengah tren produktivitas dan budaya mencari penghasilan tambahan, muncul anggapan bahwa setiap orang harus memiliki pekerjaan sampingan agar dapat berkembang.
Padahal, portfolio career bukan kewajiban dan tidak selalu cocok untuk semua kondisi.
Sebagian orang mungkin lebih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pendidikan, memperdalam keahlian, membangun pengalaman di pekerjaan utama, atau menjaga keseimbangan kehidupan pribadi.
Tidak memiliki side hustle bukan berarti seseorang tertinggal dalam perkembangan karier. Fokus pada satu pekerjaan dan meningkatkan kompetensi secara konsisten juga dapat menjadi strategi yang tepat.
Hal terpenting adalah menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan, kapasitas, dan tujuan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren.
Bagi anak muda yang tertarik mencoba pola karier ini, memulai dari langkah kecil dapat menjadi pilihan yang lebih realistis.
1. Petakan keterampilan yang dimiliki. Identifikasi kemampuan yang berpotensi dikembangkan menjadi jasa, produk, atau proyek profesional.
2. Tentukan satu aktivitas tambahan. Hindari mengambil terlalu banyak pekerjaan sekaligus. Mulailah dari aktivitas yang sesuai dengan waktu dan kemampuan.
3. Bangun portofolio. Kumpulkan contoh hasil kerja yang relevan agar calon klien atau mitra dapat memahami kemampuan yang ditawarkan.
4. Atur waktu dan target. Tentukan jam kerja, tenggat waktu, serta batas aktivitas agar pekerjaan tambahan tidak mengganggu tanggung jawab utama.
5. Evaluasi secara berkala. Periksa apakah aktivitas tersebut memberikan manfaat dari sisi pendapatan, pengalaman, keterampilan, atau jaringan profesional.
6. Siapkan pengelolaan keuangan. Catat pemasukan dan pengeluaran setiap aktivitas. Jika pendapatan tidak menentu, pertimbangkan membangun dana cadangan sesuai kemampuan.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu seseorang mengembangkan portofolio karier tanpa harus langsung meninggalkan pekerjaan utama atau mengambil risiko yang terlalu besar.
Perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja membuka lebih banyak cara bagi seseorang untuk membangun kehidupan profesional. Portfolio career menjadi salah satu pendekatan yang memungkinkan individu menggabungkan pekerjaan, keterampilan, dan minat dalam beberapa peran sekaligus.
Namun, keberhasilan tidak ditentukan oleh banyaknya pekerjaan yang dijalankan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir