KebonCinta.com-- Puasa Ayyamul Bidh menjadi salah satu amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap bulan. Meski hanya dilaksanakan selama tiga hari, ibadah ini memiliki keutamaan besar, termasuk pahala yang sebanding dengan puasa selama satu tahun.
Ayyamul Bidh secara bahasa berarti hari-hari putih. Istilah ini merujuk pada tanggal 13, 14, dan 15 dalam kalender Hijriah, ketika malam-malamnya diterangi cahaya bulan yang terang. Selain menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, puasa ini juga mengajarkan umat Islam untuk menjaga konsistensi dalam beribadah.
Anjuran menjalankan puasa tiga hari setiap bulan dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu riwayat dari Abu Dzar menyebutkan bahwa orang yang berpuasa tiga hari setiap bulan akan memperoleh pahala seperti berpuasa sepanjang masa.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan at-Tirmidzi. Keutamaan ini berkaitan dengan ketentuan bahwa satu amal kebaikan dapat dibalas sepuluh kali lipat oleh Allah SWT.
Baca Juga: Amalan Setelah Shalat Jumat yang Bisa Diamalkan, Baca 4 Surat Ini Masing-Masing 7 Kali
Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan puasa tiga hari setiap bulan dapat dipahami melalui pelipatgandaan pahala. Satu hari puasa bernilai seperti sepuluh hari dalam perhitungan pahala. Dengan demikian, tiga hari puasa setara dengan pahala puasa selama 30 hari.
Apabila dilakukan secara rutin setiap bulan, jumlah pahala tersebut sebanding dengan puasa sepanjang tahun. Inilah salah satu alasan mengapa puasa Ayyamul Bidh menjadi amalan sunnah yang memiliki nilai istimewa.
Syekh Syihabuddin ar-Ramli dalam kitab Fath ar-Rahman bi Syarh Zubad Ibn Ruslan menerangkan bahwa anjuran berpuasa tiga hari setiap bulan tidak terbatas pada tanggal Ayyamul Bidh. Puasa tiga hari pada tanggal lain pun tetap dianjurkan, berdasarkan sejumlah hadis sahih.
Artinya, umat Islam memiliki kelonggaran untuk mengamalkan puasa sunnah tersebut sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing. Namun, tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah menjadi pilihan yang dikenal sebagai Ayyamul Bidh.
Keutamaan puasa Ayyamul Bidh tidak hanya berkaitan dengan besarnya pahala. Ibadah ini juga mengandung hikmah berupa ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Syekh Mulla al-Qari dalam Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Masabih menjelaskan bahwa penamaan Ayyamul Bidh berkaitan dengan terang bulan pada malam-malam di sekitar tanggal tersebut. Puasa pada hari-hari itu dipandang sebagai salah satu bentuk syukur kepada Allah.
Melalui puasa sunnah, seorang muslim dapat belajar menghargai nikmat yang sering kali dianggap biasa, seperti kesehatan, kesempatan beribadah, dan kecukupan dalam kehidupan sehari-hari.
Puasa juga menjadi kesempatan untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan menjaga niat dan perilaku selama berpuasa, seseorang dapat melatih kesabaran sekaligus memperbaiki kualitas hubungannya dengan Allah SWT.
Baca Juga: Kapan Waktu Mustajab Berdoa pada Hari Jumat? Ini Penjelasan Ulama dan Cara Menyikapinya
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu turut menjelaskan bahwa puasa Ayyamul Bidh memiliki keutamaan berupa pahala yang sebanding dengan puasa sepanjang tahun melalui pelipatgandaan amal kebaikan.
Keistimewaan ini memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk meraih pahala besar tanpa harus menjalankan puasa setiap hari. Puasa sepanjang tahun dapat menimbulkan kesulitan atau dampak yang tidak diinginkan bagi sebagian orang, sedangkan puasa tiga hari setiap bulan relatif lebih mudah dijaga secara berkelanjutan.
Meski demikian, kemampuan setiap orang berbeda-beda. Pelaksanaan puasa sunnah tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh dan kewajiban lain yang harus ditunaikan. Ibadah yang dilakukan dengan kesungguhan dan sesuai kemampuan dapat membantu membangun kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Imam az-Zarqani dalam Syarh az-Zarqani 'ala al-Mawahib al-Laduniyah menyebutkan sejumlah pertimbangan mengenai keutamaan hari-hari Ayyamul Bidh. Salah satunya adalah waktu pelaksanaannya yang berada di pertengahan bulan Hijriah.
Dalam penjelasannya, ia juga mengaitkan hari-hari tersebut dengan kemungkinan terjadinya gerhana bulan. Apabila gerhana terjadi, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk salat gerhana, doa, dan sedekah sesuai tuntunan yang berlaku.
Bagi orang yang sedang menjalankan puasa Ayyamul Bidh, keadaan itu dapat menjadi kesempatan untuk menggabungkan beberapa bentuk ibadah dalam satu waktu.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir