KebonCinta.com - Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober tidak dapat dipisahkan dari salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, yakni Resolusi Jihad 1945.
Peristiwa tersebut mencerminkan keterlibatan ulama dan santri dalam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Resolusi Jihad menjadi bagian dari upaya membangkitkan semangat perjuangan rakyat, khususnya di Jawa Timur.
Baca Juga: 8 Ide Kegiatan Hari Santri Nasional 2026 yang Menarik untuk Sekolah dan Pesantren
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, situasi keamanan belum sepenuhnya stabil.
Kedatangan pasukan Sekutu yang disertai unsur Netherlands Indies Civil Administration (NICA) menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan kembalinya kekuasaan kolonial Belanda.
Dalam situasi tersebut, para ulama Nahdlatul Ulama mengadakan pertemuan di Surabaya untuk membahas sikap terhadap ancaman yang dihadapi bangsa.
Pertemuan tersebut menghasilkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Resolusi Jihad menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pihak yang berusaha menguasai kembali wilayah negara.
Seruan tersebut memberikan dorongan keagamaan dan moral kepada umat Islam untuk berpartisipasi dalam perjuangan mempertahankan tanah air.
KH Hasyim Asy'ari menjadi tokoh sentral dalam lahirnya Resolusi Jihad.
Seruan ini memperkuat mobilisasi perjuangan di kalangan santri, ulama, dan masyarakat.
Resolusi Jihad merupakan salah satu faktor yang turut membangkitkan semangat perlawanan rakyat di Surabaya.
Semangat tersebut berkembang dalam situasi konflik yang kemudian memuncak pada Pertempuran Surabaya, 10 November 1945.
Baca Juga: Makna Logo Hari Santri 2026, Filosofi Persatuan dan Semangat Menuju Indonesia Emas
Namun, perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan berbagai kelompok masyarakat dan tidak hanya dipengaruhi oleh satu peristiwa.
Resolusi Jihad memiliki tempat penting karena menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan juga mendapat dukungan dari jaringan pesantren dan ulama.
Hingga kini, peristiwa tersebut dikenang melalui peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir