keboncinta.com- Model dan metode pembelajaran merupakan dua istilah yang sering digunakan guru ketika menyusun modul ajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Meskipun berkaitan, keduanya memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda.
Sebagian guru masih kesulitan membedakan Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), dan Discovery Learning. Tidak sedikit pula yang menganggap diskusi kelompok sebagai model pembelajaran, padahal diskusi lebih tepat disebut metode.
Memahami perbedaannya penting agar guru dapat memilih kegiatan belajar yang sesuai dengan tujuan, karakteristik peserta didik, dan materi pelajaran.
Berikut penjelasan mengenai model, metode, sintaks, serta contoh penerapannya dalam pembelajaran.
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan pola atau tahapan kegiatan belajar secara sistematis.
Model membantu guru mengatur interaksi, aktivitas, dan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan tertentu.
Contohnya adalah Problem Based Learning, Project Based Learning, Discovery Learning, dan Cooperative Learning.
Setiap model mempunyai karakteristik dan tahapan yang dikenal sebagai sintaks pembelajaran.
Sintaks menjelaskan urutan aktivitas utama yang dilakukan guru dan siswa dalam melaksanakan model tersebut.
Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Contohnya meliputi ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, eksperimen, simulasi, dan penugasan.
Metode dapat dikombinasikan dalam satu model pembelajaran.
Misalnya, ketika menggunakan Problem Based Learning, guru dapat menggabungkan diskusi, observasi, tanya jawab, dan presentasi.
Dengan demikian, model menyediakan kerangka kegiatan secara keseluruhan, sedangkan metode menjelaskan cara kegiatan tertentu dilaksanakan.
Keempat istilah ini saling berkaitan, tetapi memiliki penekanan berbeda.
| Istilah | Penjelasan singkat |
|---|---|
| Pendekatan | Cara pandang atau prinsip dasar pembelajaran |
| Model | Kerangka pembelajaran dengan karakteristik dan tahapan tertentu |
| Strategi | Rencana pengorganisasian kegiatan untuk mencapai tujuan |
| Metode | Cara melaksanakan kegiatan pembelajaran |
Pengelompokan tersebut bersifat konseptual. Dalam literatur pendidikan, penggunaan istilah strategi, pendekatan, dan model terkadang saling beririsan.
Yang terpenting adalah konsistensi penerapannya.
Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik awal kegiatan belajar.
Peserta didik didorong mengidentifikasi masalah, mencari informasi, mengembangkan solusi, dan mengevaluasi proses pemecahannya.
Sintaks PBL terdiri atas lima tahap:
Contoh penerapan:
Dalam pelajaran IPA, guru mengangkat masalah tingginya penggunaan plastik di kantin sekolah.
Siswa mengidentifikasi penyebab, mengumpulkan data sederhana, kemudian menyusun rekomendasi untuk mengurangi sampah.
Fokusnya adalah kemampuan memahami dan memecahkan persoalan berdasarkan bukti.
Project Based Learning merupakan model yang menggunakan proyek sebagai sarana untuk membangun pengetahuan dan keterampilan.
Peserta didik tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek.
Sintaks PjBL yang umum digunakan terdiri atas enam tahap:
Contoh penerapan:
Pada pelajaran IPAS, siswa membuat sistem penanaman sederhana menggunakan botol bekas.
Mereka menentukan kebutuhan bahan, merancang wadah tanaman, melakukan penanaman, dan mencatat perkembangannya.
Hasil proyek dipresentasikan bersama penjelasan konsep yang telah dipelajari.
Perbedaannya dengan PBL terletak pada penekanan proses proyek dan hasil yang dikembangkan, meskipun keduanya sama-sama dapat berangkat dari masalah nyata.
Discovery Learning merupakan model yang mendorong siswa menemukan konsep atau hubungan melalui pengamatan dan pengolahan informasi.
Guru berperan menyediakan situasi belajar serta membimbing proses penemuan.
Sintaks Discovery Learning umumnya terdiri atas enam tahap:
Contoh penerapan:
Guru menunjukkan dua tanaman sejenis yang tumbuh pada kondisi pencahayaan berbeda.
Siswa mengamati perbedaannya, mencatat data, kemudian menyimpulkan hubungan antara cahaya dan pertumbuhan tanaman.
Guru memastikan kesimpulan didasarkan pada bukti, bukan dugaan semata.
Selain menentukan model, guru perlu memilih metode yang mendukung tujuan pembelajaran.
Ceramah interaktif cocok untuk memberikan penjelasan konsep secara terstruktur disertai pertanyaan dan tanggapan.
Diskusi membantu siswa bertukar gagasan, menyampaikan alasan, dan memahami sudut pandang berbeda.
Demonstrasi digunakan untuk memperlihatkan proses atau keterampilan tertentu.
Eksperimen memungkinkan siswa menguji dugaan melalui kegiatan terencana.
Simulasi membantu peserta didik memahami situasi atau proses melalui kegiatan tiruan.
Tidak ada metode yang selalu paling unggul untuk seluruh materi. Pemilihannya harus mempertimbangkan kebutuhan belajar.
Sebelum menentukan model, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran.
Jika tujuan menekankan pemecahan masalah, PBL dapat dipertimbangkan.
Apabila siswa diharapkan menghasilkan proyek melalui rangkaian kegiatan terencana, PjBL dapat menjadi pilihan.
Sementara itu, Discovery Learning sesuai ketika siswa perlu menemukan konsep melalui pengamatan atau pengolahan data.
Guru juga perlu mempertimbangkan usia siswa, waktu yang tersedia, tingkat kesulitan materi, sarana, dan kesiapan belajar.
Baca Juga: Cara Membuat Rubrik Penilaian Proyek Siswa Lengkap dengan Contoh Indikator
Pembelajaran mendalam atau Deep Learning bukan model dengan satu urutan sintaks yang wajib digunakan seluruh guru.
Kemendikdasmen menempatkannya sebagai pendekatan yang menekankan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Pengalaman belajar diarahkan melalui kegiatan memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan.
Karena itu, PBL, PjBL, Discovery Learning, maupun metode lainnya dapat mendukung pembelajaran mendalam apabila dirancang sesuai tujuan.
Baca Juga: Bukan Kurikulum Baru, Ini Arah Pembelajaran Mendalam 2026 yang Wajib Dipahami Guru
Kesalahan yang sering terjadi adalah menuliskan model pembelajaran tertentu dalam modul ajar, tetapi kegiatan kelas tidak mengikuti karakteristik model tersebut.
Contohnya, guru mencantumkan PBL, tetapi seluruh kegiatan hanya berupa ceramah dan latihan soal tanpa proses penyelidikan masalah.
Kesalahan lain adalah menganggap setiap pembelajaran harus menggunakan proyek besar.
Padahal, pembelajaran yang baik tidak ditentukan oleh kerumitan kegiatannya, tetapi kesesuaian antara tujuan, proses, dan asesmen.
Guru sebaiknya memilih model secara proporsional, mengamati keterlibatan siswa, serta menggunakan hasil asesmen untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.
Dengan memahami perbedaan model, metode, dan sintaks, guru dapat merancang kegiatan belajar yang lebih sistematis, relevan, dan mudah dievaluasi.
Sumber Rujukan:
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir