Pemanfaatan media digital juga dapat menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap pengetahuan agama. Namun, informasi yang beredar di internet tetap harus diperiksa sumber dan kredibilitasnya, terutama ketika membahas klaim luar biasa yang berkaitan dengan keselamatan, takdir, atau kedudukan spiritual seseorang.
Cholil turut menekankan pentingnya pendidikan di pesantren atau lembaga Islam yang memiliki kurikulum dan jalur keilmuan yang jelas. Meski demikian, masyarakat tetap perlu bersikap bijak dalam menilai setiap individu maupun lembaga berdasarkan kompetensi dan praktiknya, bukan semata-mata label yang digunakan.
Bagi orang yang merasa menjadi korban atau masih berada dalam lingkungan yang diduga melakukan penyimpangan, Cholil mengimbau agar mencari bantuan dari ulama yang tepercaya, organisasi keagamaan, dan pihak berwenang. Jika terdapat dugaan pemerasan atau tindak pidana, laporan kepada aparat dapat membantu proses penanganan lebih lanjut.
Baca Juga: Sering Makan Lele? Ini Kandungan Protein, Vitamin, dan Mineral di Dalamnya
Kasus dugaan penipuan berkedok agama di Bangkalan menjadi pengingat bahwa kepercayaan perlu disertai pemahaman dan kewaspadaan. Menghormati tokoh agama tidak berarti harus menerima setiap perintah tanpa pertanyaan. Pendidikan agama yang kuat, sikap kritis, dan penegakan hukum menjadi bagian penting untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan kepercayaan.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir