Parenting
Rahman Abdullah

Parenting Gen Z Tanpa Banyak Larangan, Ini Cara agar Anak Lebih Terbuka dan Mau Mendengarkan Orang Tua

Parenting Gen Z Tanpa Banyak Larangan, Ini Cara agar Anak Lebih Terbuka dan Mau Mendengarkan Orang Tua

23 Oktober 2026 | 12:55

KebonCinta.com-- Pernah merasa semakin sering melarang anak, justru semakin besar pula keinginannya untuk membantah? Situasi seperti ini cukup sering dialami orang tua ketika menghadapi anak yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat.

Anak generasi Z atau Gen Z, yang umumnya lahir pada 1997–2012, tumbuh dengan akses luas terhadap internet dan media digital. Mereka terbiasa mencari informasi sendiri, memiliki pandangan pribadi, serta ingin memahami alasan di balik setiap aturan. Karena itu, perintah yang hanya mengandalkan kalimat “pokoknya tidak boleh” belum tentu membuat mereka memahami maksud orang tua.

Menghadapi anak Gen Z membutuhkan pendekatan yang berbeda. Orang tua tidak harus selalu bersikap keras untuk membuat anak disiplin. Justru, komunikasi yang terbuka, pendampingan yang tepat, dan kepercayaan bisa menjadi bekal penting untuk membangun hubungan keluarga yang lebih sehat.

Lantas, bagaimana cara menerapkan parenting Gen Z agar anak tetap mandiri, tetapi tidak kehilangan arahan dari orang tua?

Baca Juga: Ingin Maksimalkan Keutamaan Hari Jumat? Kenali 10 Amalan Sunnah Ini 

1. Jangan Terlalu Banyak Melarang, Jelaskan Alasannya

Larangan tanpa penjelasan bisa membuat anak merasa kebebasannya dibatasi. Misalnya, ketika orang tua melarang penggunaan ponsel sepenuhnya tanpa membicarakan alasan di balik aturan tersebut, anak mungkin justru mencari cara agar tetap bisa menggunakannya secara diam-diam.

Daripada langsung melarang, cobalah menjelaskan dampak yang dikhawatirkan. Jika anak terlalu lama bermain gadget, misalnya, orang tua bisa membahas pengaruhnya terhadap waktu tidur, kegiatan belajar, dan aktivitas sehari-hari.

Anak tetap membutuhkan batasan, tetapi batasan tersebut sebaiknya disertai alasan yang masuk akal. Dengan begitu, mereka tidak hanya belajar mematuhi aturan, tetapi juga memahami tujuan di baliknya.

2. Ajak Anak Berdiskusi dan Dengarkan Pendapatnya

Komunikasi dua arah menjadi salah satu kunci dalam mendampingi anak Gen Z. Orang tua sebaiknya tidak hanya menyampaikan keinginan, tetapi juga memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan sudut pandangnya.

Ketika anak menyukai permainan daring, misalnya, jangan buru-buru menganggap kegiatan tersebut tidak bermanfaat. Tanyakan permainan yang mereka sukai, alasan mereka menikmatinya, serta bagaimana mereka membagi waktu antara hiburan dan tanggung jawab.

Dari percakapan sederhana itu, orang tua bisa memahami kebiasaan anak sekaligus mengajaknya menyusun aturan bersama. Anak pun memiliki kesempatan untuk belajar bertanggung jawab atas kesepakatan yang telah dibuat.

Baca Juga: RPP Seni Budaya Kelas 9 Semester 1 Lengkap dengan Tujuan, Kegiatan, dan Penilaian 

3. Bangun Kepercayaan agar Anak Nyaman Bercerita

Hubungan orang tua dan anak tidak cukup dibangun melalui perintah dan pengawasan. Anak juga perlu merasa aman ketika ingin menyampaikan masalah, mengakui kesalahan, atau membicarakan sesuatu yang membuatnya khawatir.

Jika setiap cerita selalu disambut dengan kemarahan atau penilaian, anak bisa memilih untuk menutup diri. Sebaliknya, ketika orang tua bersedia mendengarkan dengan tenang, anak memiliki ruang untuk mencari dukungan saat menghadapi kesulitan.

Membangun kepercayaan bukan berarti membebaskan anak melakukan apa saja. Orang tua tetap perlu menetapkan batasan, terutama terkait keselamatan dan tanggung jawab. Namun, aturan sebaiknya diterapkan dengan komunikasi yang jelas, bukan dengan menumbuhkan rasa takut.

4.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting Gen Z Pola Asuh Anak Anak Gen Z

Komentar Pengguna