keboncinta.com – Dalam aktivitas berbahasa dan kegiatan tulis-menulis formal, kata "yang" merupakan salah satu elemen tata bahasa yang paling sering kita gunakan. Secara fungsi, kata "yang" bertugas sebagai penanda yang mengantarkan keterangan pada kata benda di depannya, sekaligus menjadi penghubung antara subjek atau objek dengan predikat yang berupa kata sifat atau klausa pelengkap. Sayangnya, karena frekuensi penggunaannya yang sangat tinggi, banyak penulis, pelajar, bahkan kalangan profesional sering kali terjebak dalam penggunaannya yang kurang tepat. Penggunaan kata "yang" dalam kalimat nyatanya menyimpan sejumlah kesalahan yang sering terjadi, yang pada akhirnya dapat mengaburkan makna, menghilangkan subjek kalimat, hingga membuat struktur tulisan menjadi tidak efektif dan bertele-tele. Oleh karena itu, mengenali bentuk-bentuk kesalahan ini merupakan langkah krusial untuk meningkatkan kualitas literasi kita.
Kesalahan pertama yang paling lazim ditemukan adalah penggunaan kata "yang" secara sembarangan hingga menyebabkan hilangnya predikat utama dalam sebuah kalimat. Ketika kita menambahkan kata "yang" langsung setelah subjek, maka kata atau frasa yang mengikutinya akan berubah fungsi menjadi keterangan atau peluasan subjek belaka. Mari kita amati contoh kalimat salah berikut: "Mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di laboratorium." Sekilas, susunan kata ini terlihat seperti kalimat sempurna, padahal secara gramatikal susunan ini hanyalah sebuah subjek yang sangat panjang dan belum memiliki predikat karena fungsinya tereduksi oleh kata "yang". Agar kalimat tersebut menjadi utuh dan efektif, kita harus menghilangkan kata "yang" sehingga menjadi "Mahasiswa sedang melakukan penelitian di laboratorium," di mana kata "mahasiswa" jelas berkedudukan sebagai subjek dan "sedang melakukan" murni sebagai predikat.
Kesalahan berikutnya bermuara pada kecenderungan pemborosan kata atau ketidakefektifan kalimat. Banyak penulis secara tidak sadar menyisipkan kata "yang" pada posisi yang sebenarnya sama sekali tidak membutuhkannya, sekadar untuk memberikan jeda atau penekanan semu. Penggunaan berlebihan ini membuat kalimat terasa berat dan kehilangan ketegasannya. Perhatikan contoh kalimat ini: "Dia adalah seorang guru yang sangat teladan." Kehadiran kata "yang" dalam kalimat tersebut sebenarnya merupakan bentuk pemborosan karena struktur kalimatnya sudah cukup jelas. Kalimat tersebut akan menjadi jauh lebih lugas, padat, dan efektif jika ditulis menjadi "Dia adalah seorang guru teladan." Penghilangan kata "yang" di sini sama sekali tidak merusak kaidah bahasa, justru membuat pesan tersampaikan dengan lebih cepat dan berwibawa.
Kesalahan ketiga yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah meluasnya penggunaan frasa "yang mana" sebagai kata hubung penjelas di tengah kalimat. Fenomena ini muncul akibat pengaruh penerjemahan harfiah dari struktur bahasa Inggris, yakni kata depan yang diikuti which atau whom. Dalam kaidah bahasa Indonesia yang baku, kata "mana" adalah kata tanya untuk menanyakan tempat atau pilihan, sehingga menggabungkannya menjadi "yang mana" sebagai konjungsi penjelas adalah sebuah bentuk kerancuan tata bahasa. Sebagai contoh, kita sering membaca kalimat seperti: "Perusahaan telah merilis kebijakan baru, yang mana hal itu sangat menguntungkan karyawan." Untuk memperbaikinya sesuai pedoman bahasa Indonesia yang benar, kita cukup membuang frasa "yang mana" dan merestrukturisasi kalimatnya menjadi: "Perusahaan telah merilis kebijakan baru yang sangat menguntungkan karyawan," atau “Perusahaan telah merilis kebijakan baru sehingga menguntungkan karyawan.”
Menulis dengan kaidah tata bahasa yang baik sejatinya adalah proses untuk menjernihkan pikiran agar dapat ditangkap dengan sempurna oleh pembaca. Menghindari kesalahan penggunaan kata "yang" merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan tulisan yang efektif, logis, dan profesional. Dengan memahami bahwa kata "yang" bisa merusak struktur predikat, memicu pemborosan kata, serta menyadari bahwa frasa "yang mana" bukan kata hubung yang baku, kita telah melangkah lebih maju dalam merawat kualitas bahasa Indonesia kita. Mari biasakan diri untuk memeriksa ulang setiap kalimat yang kita buat, dan pastikan bahwa setiap kata yang tertulis—termasuk satu kata kecil bernama "yang"—benar-benar hadir dengan fungsi yang tepat demi terciptanya sebuah karya tulis edukatif yang berkualitas tinggi.
Baca Juga: Kata Depan “di” dan Awalan “di-”: Mengapa Sering Tertukar?
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir