KebonCinta.com-- Melupakan materi setelah belajar merupakan pengalaman yang umum terjadi. Namun, bukan berarti seseorang harus terus-menerus menghafal dari awal. Mengubah cara belajar dengan melatih kemampuan mengingat kembali informasi bisa menjadi alternatif yang patut dicoba.
Berikut empat strategi yang dapat diterapkan untuk membantu mempertahankan informasi dalam ingatan.
Baca Juga: Sering Lelah dan Stres Karena Pekerjaan? Ini Cara Menjaga Kesehatan Mental
Setelah membaca satu bagian pelajaran, jangan langsung berpindah ke bab berikutnya. Berhentilah sejenak dan cobalah mengingat kembali inti informasi yang baru dipelajari.
Misalnya, setelah membaca satu halaman buku, tutuplah buku tersebut lalu sebutkan tiga gagasan utama yang masih diingat. Jika ada bagian yang terlupakan, buka kembali buku untuk memeriksa informasi yang belum dikuasai.
Latihan singkat ini sejalan dengan gagasan bahwa mengaktifkan kembali ingatan dapat membantu memperkuat penyimpanan informasi.
Membaca berulang kali belum tentu membuat seseorang benar-benar memahami materi. Karena itu, pelajar dapat mencoba mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri setelah menyelesaikan sesi belajar.
Saat mempelajari sejarah, misalnya, buatlah pertanyaan mengenai penyebab peristiwa, tokoh yang terlibat, kronologi, serta dampaknya. Untuk mata pelajaran sains, pertanyaan dapat diarahkan pada proses, fungsi, dan alasan suatu fenomena terjadi.
Jawablah pertanyaan tersebut tanpa melihat catatan terlebih dahulu. Setelah itu, cocokkan jawaban dengan sumber belajar untuk mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki.
Strategi ini membantu pelajar mengenali tingkat pemahamannya sendiri, bukan sekadar merasa sudah menguasai materi karena terbiasa melihat informasi yang sama. Penelitian yang dimuat dalam Canadian Journal of Experimental Psychology menjadi salah satu rujukan yang membahas manfaat pengujian ingatan melalui pertanyaan.
Baca Juga: Berikut Cakupan Materi TKA Bahasa Inggris dan Strategi Efektif Persiapannya
Belajar tidak harus selalu dilakukan dengan membaca dalam hati. Mengucapkan materi menggunakan suara sendiri juga dapat menjadi pilihan, terutama ketika mempelajari definisi, istilah penting, bahan presentasi, atau urutan informasi.
Sebagai contoh, setelah memahami sebuah konsep, cobalah menjelaskannya dengan bahasa sendiri seolah-olah sedang mengajar orang lain. Cara ini sekaligus membantu menguji apakah materi benar-benar dipahami atau baru sebatas dikenali ketika dibaca.
Pengucapan lantang juga membuat informasi memiliki pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan membaca dalam hati. Penelitian dalam Journal of Experimental Psychology menjadi salah satu landasan pembahasan mengenai efek produksi, yaitu kecenderungan informasi yang diucapkan atau dihasilkan secara aktif lebih mudah diingat dalam kondisi tertentu.
Belajar hingga larut malam bukan selalu pilihan terbaik, terutama ketika tubuh sudah kelelahan. Alternatifnya, pelajar dapat membagi proses belajar menjadi beberapa tahap dengan memberikan waktu istirahat yang cukup.
Sebagai contoh, pelajari materi pada malam hari, kemudian sebelum tidur cobalah menyebutkan kembali pokok-pokok pembahasannya. Pada pagi berikutnya, lakukan tinjauan singkat untuk menguji bagian yang masih diingat.
Pola ini dapat diterapkan ketika mempersiapkan ujian, presentasi, atau tugas yang membutuhkan penguasaan informasi. Tidur yang cukup berperan penting dalam mendukung proses belajar dan konsolidasi memori, sedangkan peninjauan kembali membantu menguji seberapa baik informasi masih dapat diakses.
Baca Juga: 4 Cara Hidup Bahagia bagi Introvert Tanpa Harus Memaksakan Diri Bersosialisasi Prolog
Daripada memaksakan diri membaca berulang kali ketika sudah sangat mengantuk, mengatur waktu belajar dan tidur secara seimbang dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Keempat strategi tersebut memiliki kesamaan, yakni mendorong seseorang untuk terlibat aktif dalam proses belajar.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir