Pendidikan
M. Panji Maulana

Perbedaan Asesmen Formatif dan Sumatif, Lengkap dengan Contoh Penerapan di Kelas

Perbedaan Asesmen Formatif dan Sumatif, Lengkap dengan Contoh Penerapan di Kelas

13 Oktober 2026 | 19:56

keboncinta.com- Asesmen merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Melalui asesmen, guru dapat mengetahui perkembangan kemampuan siswa sekaligus menilai ketercapaian tujuan pembelajaran.

Dua jenis asesmen yang sering digunakan adalah asesmen formatif dan asesmen sumatif.

Meskipun sama-sama berkaitan dengan penilaian, keduanya memiliki tujuan serta pemanfaatan hasil yang berbeda.

Lantas, apa perbedaan asesmen formatif dan sumatif? Berikut penjelasan beserta contoh penerapannya di kelas.

Apa Itu Asesmen Formatif?

Asesmen formatif merupakan penilaian yang bertujuan memantau dan memperbaiki proses pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen, asesmen formatif digunakan untuk mengevaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran sekaligus memberikan informasi untuk perbaikan.

Asesmen ini dapat dilakukan sebelum atau selama kegiatan pembelajaran sesuai kebutuhan guru.

Hasilnya digunakan untuk mengetahui bagian materi yang sudah dipahami maupun yang masih memerlukan pendampingan.

Apa Itu Asesmen Sumatif?

Asesmen sumatif bertujuan menilai pencapaian hasil belajar peserta didik.

Dalam pendidikan dasar dan menengah, hasil asesmen sumatif dapat menjadi salah satu dasar pertimbangan kenaikan kelas maupun kelulusan sesuai ketentuan yang berlaku.

Asesmen sumatif dapat dilaksanakan setelah suatu lingkup materi selesai atau pada periode penilaian tertentu.

Bentuknya tidak harus berupa ujian tertulis.

Guru dapat menggunakan proyek, presentasi, praktik, atau tugas lain apabila sesuai dengan kompetensi yang dinilai.

Baca Juga: Contoh Rencana Tindak Lanjut Literasi Kelas Awal setelah Asesmen Membaca 

Perbedaan Tujuan Asesmen

Perbedaan utama terletak pada tujuan pelaksanaannya.

Asesmen Formatif

Berfokus pada pemantauan perkembangan dan perbaikan pembelajaran.

Asesmen Sumatif

Berfokus pada pengukuran pencapaian hasil belajar berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

Keduanya saling melengkapi dalam proses pendidikan.

Contoh Asesmen Formatif di Kelas

Misalnya, guru kelas 4 SD sedang mengajarkan konsep pecahan.

Setelah menjelaskan materi, guru memberikan tiga pertanyaan singkat.

Hasil jawaban menunjukkan bahwa sebagian siswa belum memahami perbandingan pecahan.

Guru kemudian menggunakan alat peraga atau contoh visual sebelum melanjutkan materi.

Dalam contoh tersebut, asesmen berfungsi membantu guru memperbaiki pembelajaran.

Contoh lain meliputi:

  1. Pertanyaan lisan.
  2. Kuis singkat.
  3. Diskusi kelas.
  4. Pengamatan kegiatan siswa.
  5. Refleksi pembelajaran.
  6. Pemeriksaan latihan disertai umpan balik.

Contoh Asesmen Sumatif di Kelas

Pada akhir unit pembelajaran, guru dapat menggunakan tugas untuk menilai kompetensi yang sudah dipelajari.

Misalnya, siswa diminta menyelesaikan soal pemecahan masalah yang mencakup beberapa konsep pecahan.

Guru menilai hasil menggunakan kriteria yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Contoh lain adalah proyek akhir, presentasi, praktik keterampilan, dan laporan kegiatan.

Bentuk asesmen dipilih berdasarkan kemampuan yang hendak diukur.

Apakah Asesmen Formatif Harus Diberi Nilai?

Asesmen formatif tidak harus selalu menghasilkan angka.

Informasi kualitatif dapat digunakan untuk memberikan umpan balik.

Misalnya, guru mencatat bahwa siswa sudah mampu mengidentifikasi informasi dalam bacaan tetapi masih kesulitan menyampaikan gagasan utama.

Catatan tersebut dapat menjadi dasar tindak lanjut tanpa harus mengubah seluruh hasil kegiatan menjadi nilai numerik.

Fungsi utama asesmen formatif tetap untuk mendukung proses belajar.

Apakah Asesmen Sumatif Harus Dilaksanakan pada Akhir Semester?

Tidak selalu.

Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah suatu unit, lingkup materi, atau periode pembelajaran yang telah direncanakan.

Waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan rancangan pembelajaran dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, anggapan bahwa asesmen sumatif hanya berarti ujian akhir semester tidak sepenuhnya tepat.

Baca Juga: Contoh Instrumen Asesmen Diagnostik SD, SMP, dan SMA: Soal, Lembar Observasi, dan Analisis Hasil 

Cara Memadukan Keduanya

Guru dapat memulai pembelajaran dengan mengidentifikasi kemampuan awal siswa.

Selama kegiatan berlangsung, guru menggunakan asesmen formatif untuk memantau perkembangan dan memberikan umpan balik.

Setelah tujuan pembelajaran tertentu selesai dipelajari, asesmen sumatif dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pencapaian akhir.

Hasil kedua jenis asesmen tersebut membantu guru memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang proses dan hasil belajar.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Beberapa kesalahan yang sering terjadi meliputi:

  • Menganggap semua tugas harus menjadi nilai akhir.
  • Tidak menggunakan hasil formatif untuk perbaikan.
  • Menyusun asesmen tanpa mengacu pada tujuan pembelajaran.
  • Menganggap sumatif hanya berupa tes tertulis.
  • Memberikan umpan balik yang terlalu umum.
  • Tidak menindaklanjuti kesulitan siswa yang ditemukan.

Dengan memahami perbedaan asesmen formatif dan sumatif, guru dapat merancang kegiatan penilaian yang lebih bermakna serta membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara bertahap.

Tags:
AsesmenFormatif AsesmenSumatif PenilaianPembelajaran

Komentar Pengguna