Kesehatan
Al Fina

Sama-Sama Makan Nasi Putih, Mengapa Diabetes di Jepang Lebih Rendah dari Indonesia? Ini Faktor yang Perlu Diketahui

Sama-Sama Makan Nasi Putih, Mengapa Diabetes di Jepang Lebih Rendah dari Indonesia? Ini Faktor yang Perlu Diketahui

26 Oktober 2026 | 19:32

KebonCinta.com - Nasi putih menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Bahan pangan ini juga dikonsumsi secara rutin di Jepang, tetapi angka diabetes di kedua negara menunjukkan perbedaan yang menarik perhatian.

Mengacu pada laporan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025 yang disebut dalam referensi, jumlah penderita diabetes di Jepang pada 2024 mencapai sekitar 10,1 juta orang. Angka tersebut diklaim sekitar setengah dari jumlah penderita di Indonesia.

Perbedaan ini kemudian memunculkan pertanyaan: jika masyarakat kedua negara sama-sama mengonsumsi nasi putih, mengapa jumlah penderita diabetesnya berbeda?

Perlu dipahami bahwa konsumsi nasi putih bukan satu-satunya faktor yang menentukan risiko diabetes. Risiko penyakit ini dipengaruhi berbagai hal, termasuk aktivitas fisik, pola makan secara keseluruhan, faktor genetik, usia, dan kondisi kesehatan seseorang.

Ada beberapa kebiasaan yang kerap dikaitkan dengan gaya hidup masyarakat Jepang dan relevan untuk dipelajari.

Baca Juga: Makin Dewasa Makin Jarang Bertemu Teman? Ini 4 Kebiasaan Sederhana agar Pertemanan Tetap Awet 

1. Aktivitas fisik menjadi bagian dari rutinitas harian

Salah satu kebiasaan yang sering disoroti adalah aktivitas fisik dalam keseharian masyarakat Jepang. Berjalan kaki menuju sekolah, menggunakan transportasi umum yang mengharuskan penumpang berjalan ke stasiun, hingga bersepeda dapat membuat aktivitas fisik lebih menyatu dengan rutinitas.

YouTuber Jepang Yoko Ishii, dalam wawancaranya dengan Fox News sebagaimana dikutip dalam referensi, menceritakan bahwa kebiasaan berjalan kaki telah diperkenalkan sejak masa kanak-kanak. Anak-anak biasanya berjalan menuju sekolah apabila jaraknya memungkinkan, sedangkan perjalanan yang lebih jauh dapat ditempuh dengan kereta atau sepeda.

Kebiasaan aktif bergerak memiliki manfaat bagi kesehatan metabolik. Otot menggunakan glukosa sebagai sumber energi, sehingga aktivitas fisik dapat membantu tubuh mengatur kadar gula darah. Aktivitas rutin juga berkontribusi dalam menjaga sensitivitas insulin.

Sebaliknya, terlalu banyak duduk dan kurang bergerak dapat meningkatkan risiko sejumlah masalah kesehatan, termasuk diabetes tipe 2.

Meski begitu, berjalan kaki bukan jaminan seseorang terbebas dari diabetes. Kebiasaan tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

2. Pola makan tidak hanya ditentukan oleh makanan pokok

Nasi putih sering menjadi perhatian ketika membahas diabetes karena mengandung karbohidrat yang akan dipecah tubuh menjadi glukosa. Namun, menilai risiko diabetes hanya berdasarkan konsumsi nasi putih merupakan penyederhanaan yang kurang tepat.

Pola makan secara keseluruhan turut menentukan kualitas asupan seseorang. Dalam gambaran pola makan tradisional Jepang, nasi kerap disajikan bersama ikan, makanan berbahan kedelai, sayuran, dan bahan pangan lainnya.

Kombinasi tersebut dapat menyediakan protein, serat, vitamin, mineral, serta zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Sayuran dan sumber protein juga membantu membuat menu lebih beragam dibandingkan jika seseorang hanya mengandalkan nasi dan lauk yang minim zat gizi.

Porsi makanan, metode pengolahan, frekuensi konsumsi minuman manis, serta keseimbangan energi harian juga perlu diperhatikan. Jadi, keberadaan nasi putih dalam menu tidak otomatis membuat seseorang mengalami diabetes.

3. Edukasi kesehatan membantu membentuk kebiasaan

Faktor lain yang disebut dalam referensi adalah paparan informasi kesehatan melalui media, termasuk televisi. Program yang membahas nutrisi dan kesehatan dapat membantu masyarakat mengenali kebiasaan yang mendukung kualitas hidup.

Namun, keberadaan tayangan edukatif tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa angka diabetes suatu negara lebih rendah. Dampaknya bergantung pada kualitas informasi, akses masyarakat, serta penerapan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Edukasi kesehatan akan lebih bermanfaat jika disertai lingkungan yang mendukung, seperti akses terhadap makanan bergizi, ruang untuk beraktivitas, dan layanan pemeriksaan kesehatan.

Apa yang bisa diterapkan di Indonesia?

Masyarakat Indonesia tidak harus berhenti mengonsumsi nasi putih untuk mulai menjaga risiko diabetes. Langkah yang lebih realistis adalah memperhatikan porsi makan, memperbanyak sayuran, memilih sumber protein yang sesuai, membatasi minuman berpemanis, dan rutin melakukan aktivitas fisik.

Berjalan kaki secara teratur, mengurangi waktu duduk terlalu lama, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan tersebut.

Pada akhirnya, perbedaan angka diabetes antara Jepang dan Indonesia tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu kebiasaan.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Jepang diabetes Pola Makan

Komentar Pengguna