KebonCinta.com — Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Ahmad Alfarizi, alumni Pondok Pesantren Yasmin Dorebara, berhasil memperoleh Beasiswa Persatuan Pelajar Indonesia atau PPI Tunisia 2026.
Ahmad disebut menjadi orang Dompu pertama yang berhasil lolos program beasiswa tersebut untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Tunisia.
Ia juga telah memperoleh Letter of Acceptance atau LoA dari Université de Sousse, salah satu perguruan tinggi yang berada di Tunisia.
Keberhasilan tersebut diraih melalui proses seleksi yang diikuti ratusan calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Sekitar 870 peserta tercatat mengikuti proses seleksi Beasiswa PPI Tunisia 2026.
Dari jumlah tersebut, hanya 86 peserta yang akhirnya dinyatakan lolos dan mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di Tunisia.
Dua penerima berasal dari Nusa Tenggara Barat.
Baca Juga: Guru Madrasah Tidak Ikut AKGTK 2026, Apa Konsekuensinya? Ini Penjelasan Kemenag
Selain Ahmad yang berasal dari Kabupaten Dompu, terdapat Nurhidayani dari Kabupaten Lombok Timur.
Ahmad merupakan alumni Pondok Pesantren Yasmin Dorebara angkatan 2026.
Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, ia mengikuti proses seleksi hingga akhirnya memperoleh kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri.
“Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa santri dari daerah memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tinggi di tingkat internasional,” kata pimpinan pesantren H. Nurhanudin.
Menurutnya, capaian tersebut diharapkan tidak berhenti menjadi kebanggaan bagi Ahmad dan keluarganya.
Keberhasilan itu juga diharapkan menjadi motivasi bagi santri lain agar berani mencari informasi beasiswa dan mempersiapkan kemampuan akademik sejak masih berada di pesantren.
Kesempatan kuliah ke luar negeri selama ini terkadang dianggap hanya mudah diakses oleh siswa yang tinggal di kota besar.
Namun perkembangan informasi digital membuat peluang pendidikan internasional semakin terbuka bagi pelajar dari berbagai daerah.
Tantangannya adalah bagaimana siswa menemukan informasi yang benar, mempersiapkan dokumen dan meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan dalam proses seleksi.
Pesantren juga dapat mempunyai peran penting dalam proses tersebut.
Selain memberikan pendidikan keagamaan, pesantren dapat membantu santri membangun kemampuan bahasa, akademik dan kemandirian.
Ahmad selanjutnya akan menempuh pendidikan di Université de Sousse dengan membawa pengalaman pendidikannya dari Dompu.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa asal daerah bukan penghalang untuk memperoleh kesempatan pendidikan internasional.
Bagi para santri dan pelajar yang ingin mengikuti jejak serupa, pengalaman Ahmad dapat menjadi pengingat penting untuk mulai mencari peluang sejak dini.
Beasiswa tidak hanya membutuhkan nilai akademik, tetapi juga kesiapan mengikuti seleksi, kelengkapan dokumen dan keberanian mencoba.
Dari sebuah pesantren di Dompu, Ahmad kini bersiap melanjutkan perjalanan akademiknya ribuan kilometer dari Indonesia.
Prestasi itu diharapkan dapat membuka jalan bagi semakin banyak pelajar dan santri dari daerah untuk berani mengejar pendidikan hingga tingkat internasional.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir