Ciayumajakuning
Hilmi An Naufal

Sekitar 100 Orang Sakit Usai Santap MBG di Kota Cirebon, Dapur SPPG Disuspend dan Sampel Diuji Lab

Sekitar 100 Orang Sakit Usai Santap MBG di Kota Cirebon, Dapur SPPG Disuspend dan Sampel Diuji Lab

21 Oktober 2026 | 12:35

KebonCinta.com — Kasus dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Sejumlah siswa dan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program tersebut.

Gejala yang dilaporkan meliputi mual, muntah, sakit perut, pusing, hingga diare.

Puluhan pasien kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Jumlah pasien yang dilaporkan terus bertambah seiring pendataan oleh petugas.

WALI KOTA CIREBON SEBUT SEKITAR 100 ORANG

Wali Kota Cirebon Effendi Edo menyampaikan bahwa sekitar 100 orang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Keterangan tersebut disampaikan saat memantau penanganan pasien pada Selasa malam, 20 Oktober 2026, sebagaimana diberitakan Bisnis.com pada Rabu, 21 Oktober.

Para pasien mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain:

  1. RS Siloam Putera Bahagia.
  2. RSD Gunung Jati.
  3. RS Ciremai.
  4. RS Cahaya Bunda.

Edo menjelaskan bahwa para pasien telah memperoleh penanganan medis dan sebagian di antaranya sudah diperbolehkan pulang.

Angka sekitar 100 orang tersebut merupakan data sementara yang disampaikan pada malam kejadian.

Dalam laporan Rakyat Cirebon yang diterbitkan pada Rabu pagi, 21 Oktober, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon Yulian Septa Pratama menyebut pendataan yang sedang disusunnya berada di kisaran 165 orang.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah pasti penerima manfaat yang terdampak masih dalam proses pendataan dan perlu menunggu pembaruan resmi.

Baca Juga: Apa Itu Tenses dalam Bahasa Inggris? Kenali Fungsi dan Contoh Penggunaannya 

KORBAN BERASAL DARI SEJUMLAH SEKOLAH

Berdasarkan keterangan KPPG Cirebon yang dilaporkan detikJabar, beberapa siswa yang diduga terdampak berasal dari SDN Kalijaga Permai, SDN Taman Kalijaga Permai, dan TK Teratai.

Gangguan kesehatan mulai dirasakan sejumlah anak setelah pulang sekolah pada Selasa sore.

Salah seorang orang tua siswa, Agus Bakhtiar, mengaku menerima informasi mengenai kondisi anaknya sekitar pukul 15.45 WIB.

Ia kemudian mengetahui bahwa anaknya mengalami muntah-muntah setelah sebelumnya mengikuti kegiatan sekolah dan mengonsumsi makanan MBG.

Keluhan serupa juga dialami sejumlah siswa lain sehingga orang tua membawa anak-anak mereka ke fasilitas kesehatan.

MENU SUP TELUR PUYUH JADI PERHATIAN

Salah satu menu MBG yang menjadi perhatian dalam kejadian tersebut adalah sup telur puyuh.

Berdasarkan keterangan sejumlah orang tua yang diberitakan media lokal, terdapat keluhan mengenai rasa dan aroma makanan yang dikonsumsi anak-anak.

Namun, keterangan tersebut masih berdasarkan pengakuan penerima manfaat dan keluarga.

Penyebab pasti gangguan kesehatan belum dapat dipastikan hanya dari keluhan mengenai rasa makanan.

Pihak berwenang masih melakukan penelusuran dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan faktor yang menyebabkan para penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan.

Baca Juga: Mendikdasmen Minta Bahasa Daerah Dibiasakan di Rumah dan Sekolah, 490 Siswa Ikuti FTBI Jateng 2026 

Karena itu, kasus ini masih disebut sebagai dugaan keracunan sampai hasil pemeriksaan memberikan kepastian.

DAPUR SPPG KALIJAGA LIMA DIHENTIKAN SEMENTARA

Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Cirebon mengambil langkah menghentikan sementara kegiatan dapur penyedia MBG yang berkaitan dengan kejadian tersebut.

Kepala KPPG Cirebon, Yulian Septa Pratama, menyatakan bahwa operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga Lima ditangguhkan sejak Selasa malam, 20 Oktober 2026.

Penangguhan dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Keputusan tersebut diambil sebagai langkah awal penanganan sambil menunggu proses pemeriksaan dan evaluasi.

BGN juga telah mengamankan sampel makanan untuk diperiksa melalui laboratorium.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat.

BGN AKAN MENANGGUNG BIAYA PERAWATAN

Yulian Septa Pratama menyampaikan bahwa biaya penanganan medis para korban akan ditanggung oleh Badan Gizi Nasional.

Pemerintah daerah bersama petugas kesehatan terus melakukan penanganan dan pendataan terhadap pasien yang mengalami keluhan.

Petugas juga berkoordinasi dengan rumah sakit untuk memastikan korban memperoleh perawatan yang diperlukan.

KABAR SISWA MENINGGAL DINYATAKAN TIDAK BENAR

Di tengah kejadian tersebut, beredar pesan berantai melalui WhatsApp yang menyebutkan seorang siswa TK Teratai meninggal dunia setelah mengonsumsi MBG.

Namun, informasi tersebut tidak terbukti berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pada Selasa malam.

Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani, mendatangi sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSD Gunung Jati, untuk memastikan kondisi pasien.

Berdasarkan hasil pemeriksaannya, tidak ditemukan laporan pasien meninggal dunia di RSD Gunung Jati.

Saat itu, sebanyak 31 pasien dilaporkan mendapatkan penanganan medis di rumah sakit tersebut.

KPPG Cirebon juga menyatakan tidak terdapat laporan korban meninggal dalam pendataan yang sedang dilakukan hingga keterangan tersebut disampaikan.

Masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi korban meninggal yang belum terverifikasi.

PENYEBAB MASIH MENUNGGU HASIL LABORATORIUM

Hingga perkembangan yang diberitakan pada Rabu pagi, 21 Oktober 2026, penyebab pasti kejadian belum diumumkan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Pemerintah dan pihak terkait masih melakukan penelusuran terhadap makanan yang didistribusikan serta kondisi para penerima manfaat.

Penghentian sementara operasional dapur dilakukan untuk mendukung proses investigasi dan evaluasi keamanan pangan.

Kasus tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan penyajian makanan dalam program MBG.

Informasi mengenai jumlah korban, kondisi pasien, dan hasil pemeriksaan laboratorium masih dapat berkembang setelah pendataan lebih lanjut dilakukan.

Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari Pemerintah Kota Cirebon, Dinas Kesehatan, dan Badan Gizi Nasional agar memperoleh perkembangan yang akurat mengenai penanganan kejadian tersebut.

Tags:
keracunan MBG Cirebon MBG Kota Cirebon SPPG Kalijaga Lima Harjamukti Effendi Edo Badan Gizi Nasional berita Cirebon terbaru Keracunan Makanan

Komentar Pengguna