Sebagian orang sengaja mengurangi waktu tidur karena merasa dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Padahal, kurang tidur justru berpotensi membuat pekerjaan menjadi lebih lambat dan meningkatkan kesalahan.
Rasa kantuk dapat menurunkan kewaspadaan, memperlambat reaksi, serta mengganggu kemampuan mengambil keputusan. Dampaknya menjadi lebih serius ketika seseorang mengemudi, mengoperasikan mesin, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian penuh.
Dalam situasi tertentu, kurang tidur juga dapat memicu microsleep, yaitu kondisi ketika seseorang tertidur selama beberapa detik tanpa sepenuhnya menyadarinya. Hal ini sangat berbahaya jika terjadi ketika sedang berkendara.
Oleh sebab itu, memaksakan diri tetap beraktivitas saat mengantuk berat bukanlah pilihan yang aman. Beristirahat dan menunda aktivitas berisiko jauh lebih penting daripada memaksakan pekerjaan selesai.
Baca Juga: Catat Tanggalnya! Gerhana Matahari Total 2027 Lintasi Makkah hingga Mesir
Kebutuhan tidur berbeda berdasarkan usia. Sebagai pedoman umum, orang dewasa berusia 18–60 tahun dianjurkan tidur setidaknya tujuh jam setiap malam. Sebagian orang mungkin membutuhkan waktu lebih lama agar dapat bangun dengan kondisi segar dan berfungsi dengan baik.
Bukan hanya durasinya yang penting, kualitas dan keteraturan tidur juga perlu diperhatikan. Tidur yang sering terputus atau jadwal yang terus berubah dapat membuat tubuh kesulitan mempertahankan pola istirahat yang sehat.
Jika seseorang sudah tidur cukup tetapi tetap sering mengantuk pada siang hari, mengalami gangguan tidur berulang, atau kesulitan menjalankan aktivitas, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Memperbaiki pola tidur tidak harus dilakukan dengan perubahan besar sekaligus. Langkah awal dapat dimulai dengan menentukan waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari, termasuk pada akhir pekan.
Batasi penggunaan ponsel menjelang tidur, terutama jika aktivitas di layar membuat waktu istirahat terus tertunda. Ciptakan kamar yang nyaman, redup, tenang, dan tidak terlalu panas agar tubuh lebih mudah beristirahat.
Konsumsi minuman berkafein juga perlu diperhatikan, terutama pada sore atau malam hari. Jika terbiasa tidur sangat larut, majukan waktu tidur secara bertahap agar perubahan jadwal lebih mudah dipertahankan.
Selain itu, biasakan melakukan aktivitas fisik secara teratur dan hindari menjadikan begadang sebagai cara utama untuk mengejar pekerjaan. Mengatur prioritas dan membagi tugas sejak awal dapat membantu mengurangi kebutuhan mengorbankan waktu tidur.
Baca Juga: 10 Universitas Terbaik di Dunia 2027, MIT Nomor Satu dan NUS Wakili Asia
Pada akhirnya, begadang sesekali tidak selalu berarti seseorang akan mengalami penyakit. Namun, kurang tidur yang berlangsung terus-menerus dapat membawa konsekuensi bagi kesehatan fisik, kemampuan berpikir, suasana hati, dan keselamatan.
Tidur bukan waktu yang terbuang. Justru melalui istirahat yang cukup, tubuh dan otak memperoleh kesempatan untuk memulihkan diri sehingga aktivitas keesokan harinya dapat dijalani dengan lebih baik.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir