Tidur bukan sekadar waktu untuk memulihkan tenaga setelah beraktivitas. Pada fase ini, otak turut menjalankan proses penting yang membantu pembentukan dan penguatan ingatan.
Ketika waktu tidur tidak mencukupi, kemampuan untuk berkonsentrasi dan mempelajari informasi baru dapat menurun. Akibatnya, seseorang lebih mudah lupa, sulit memahami sesuatu, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan.
National Institutes of Health (NIH) menjelaskan bahwa tidur memiliki peran penting dalam proses belajar dan pembentukan memori. Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus pun dapat berdampak pada kemampuan kognitif.
Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah obstructive sleep apnea (OSA), yaitu gangguan ketika saluran napas berulang kali menyempit atau tersumbat selama tidur. Kondisi ini dapat mengganggu kualitas tidur dan menurunkan kadar oksigen dalam darah.
Jika seseorang sering mendengkur keras, mengalami jeda napas ketika tidur, atau tetap merasa lelah meskipun sudah beristirahat, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebabnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Suka Rapi, Kenali Gejala OCD, Penyebab, dan Cara Penanganannya
Gangguan daya ingat ternyata tidak selalu berasal dari masalah memori itu sendiri. Penurunan kemampuan mendengar juga dapat membuat seseorang terlihat lebih mudah lupa.
Ketika suara tidak terdengar dengan jelas, otak perlu bekerja lebih keras untuk memahami percakapan. Kondisi tersebut dapat menyita perhatian yang seharusnya digunakan untuk menangkap dan menyimpan informasi.
Akibatnya, seseorang mungkin kesulitan mengingat isi pembicaraan atau kerap meminta orang lain mengulangi perkataan mereka. Situasi ini bisa semakin terasa ketika berada di tempat ramai atau saat berbicara dengan banyak orang sekaligus.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara gangguan pendengaran dan penurunan fungsi kognitif. Penanganan yang sesuai, termasuk penggunaan alat bantu dengar bagi orang yang membutuhkannya, dapat membantu meningkatkan akses terhadap suara dan komunikasi.
Meski demikian, manfaat alat bantu dengar bergantung pada kondisi masing-masing individu. Pemeriksaan pendengaran menjadi langkah awal yang penting apabila seseorang mulai kesulitan mengikuti percakapan sehari-hari.
Mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus sering dianggap sebagai cara untuk menghemat waktu. Namun, kebiasaan berpindah-pindah perhatian justru dapat membuat seseorang kurang optimal dalam menyelesaikan setiap tugas.
Contohnya adalah membaca pesan di ponsel ketika sedang belajar, memeriksa media sosial saat bekerja, atau menonton video sambil mencoba mengingat informasi penting.
Penelitian mengenai multitasking digital, termasuk yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, menyoroti hubungan antara penggunaan berbagai media secara bersamaan dan kemampuan perhatian. Ketika fokus terus berpindah, informasi yang diterima bisa tidak diproses secara mendalam sehingga lebih sulit diingat kembali.
Menurut Caccappolo, kecepatan pemrosesan informasi memang cenderung berubah seiring bertambahnya usia. Melakukan banyak aktivitas dalam waktu bersamaan dapat menambah beban perhatian dan menurunkan efektivitas kerja.
Untuk mengatasinya, cobalah menyelesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu sebelum beralih ke tugas berikutnya. Membatasi notifikasi ponsel, menyediakan waktu khusus untuk belajar, dan mengurangi gangguan saat bekerja dapat membantu meningkatkan fokus.
Mudah lupa sesekali merupakan pengalaman yang dapat dialami siapa saja. Namun, perubahan daya ingat yang semakin sering, memburuk, atau mulai mengganggu kegiatan sehari-hari perlu mendapatkan perhatian.
Terlebih jika seseorang mengalami kesulitan mengikuti percakapan, berulang kali melupakan informasi penting, tersesat di tempat yang sudah dikenal, atau kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dikerjakan secara mandiri.
Pemeriksaan dokter dapat membantu menilai apakah keluhan tersebut berkaitan dengan gangguan tidur, masalah kesehatan mental, efek obat, kekurangan zat gizi, atau kondisi medis lainnya.
Jika gangguan ingatan muncul secara mendadak, terutama disertai wajah menurun sebelah, kelemahan pada satu sisi tubuh, atau kesulitan berbicara, segera cari pertolongan medis darurat karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda stroke.
Baca Juga: Kenapa Siswa SMA Perlu Mengikuti TKA? Ternyata ini Tujuan dan Fungsinya
Sering lupa tidak selalu menjadi pertanda seseorang mengalami penuaan. Penggunaan obat tertentu, depresi dan kecemasan, pola makan yang kurang seimbang, gangguan tidur, penurunan pendengaran, serta kebiasaan multitasking dapat ikut memengaruhi kemampuan mengingat.
Menjaga daya ingat dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, mengelola stres, menjaga kesehatan pendengaran, dan membiasakan diri untuk fokus pada satu aktivitas dalam satu waktu.
Yang tidak kalah penting, jangan mengabaikan perubahan ingatan yang terus memburuk. Mengenali penyebabnya sejak awal dapat membantu seseorang memperoleh penanganan yang sesuai dan mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir