KebonCinta.com-- Mi instan menjadi pilihan makanan favorit banyak orang karena mudah dibuat, harganya relatif murah, dan cocok disantap kapan saja. Bagi sebagian orang, makanan ini bahkan kerap menjadi menu andalan ketika tidak sempat memasak. Namun, kebiasaan mengonsumsi mi instan terlalu sering perlu diperhatikan karena dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.
Dokter mengingatkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada konsumsi mi instan sesekali, melainkan ketika makanan tersebut terus-menerus menggantikan hidangan yang memiliki kandungan gizi lebih lengkap. Jika kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama, kebutuhan nutrisi tubuh berisiko tidak terpenuhi dengan baik.
Dokter ortopedi asal Mumbai, India, Dr Manan Vora, menjelaskan bahwa mi instan tidak harus dihindari sepenuhnya. Menurutnya, konsumsi sesekali umumnya tidak menjadi masalah bagi orang sehat, tetapi menjadikannya makanan utama setiap hari bukan pilihan yang ideal.
Pandangan serupa disampaikan dokter asal Surabaya, Sungadi Santoso atau dr. Sung, yang mengingatkan pentingnya memperhatikan kandungan gizi dan jumlah mi instan yang dikonsumsi.
Lantas, apa saja hal yang perlu diperhatikan jika mi instan sudah menjadi bagian dari menu sehari-hari?
Baca Juga: Materi TKA Bahasa Arab SMA, Ini Panduan Belajar yang Perlu Diketahui Siswa
Mi instan umumnya mengandung karbohidrat sebagai sumber energi. Namun, kandungan protein, serat, vitamin, dan mineralnya dapat terbatas, bergantung pada jenis produk dan komposisinya.
Apabila seseorang terlalu sering mengandalkan mi instan tanpa mengonsumsi makanan lain yang beragam, kebutuhan nutrisi hariannya bisa tidak tercukupi. Tubuh membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung fungsi organ, menjaga daya tahan tubuh, serta memperbaiki jaringan.
Kondisi tersebut bukan berarti satu porsi mi instan langsung menyebabkan kekurangan gizi. Risiko lebih berkaitan dengan kebiasaan makan dalam jangka panjang, terutama jika mi instan menggantikan sumber protein, sayuran, buah, dan makanan bergizi lainnya.
Karena itu, penting untuk menjadikan mi instan sebagai salah satu pilihan makanan sesekali, bukan satu-satunya sumber energi dan nutrisi.
Salah satu hal yang patut diperiksa ketika mengonsumsi mi instan adalah jumlah natrium atau garam dalam produk tersebut. Kandungan natrium sering kali cukup tinggi, terutama pada bumbu yang memberikan cita rasa gurih.
Jika asupan natrium secara keseluruhan terlalu tinggi dan berlangsung terus-menerus, risiko tekanan darah tinggi dapat meningkat. Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke.
Dampaknya tidak hanya ditentukan oleh mi instan. Makanan lain yang dikonsumsi sepanjang hari juga menyumbang asupan natrium, termasuk makanan kemasan, camilan asin, dan makanan olahan.
Untuk mengurangi asupan garam, periksa informasi nilai gizi pada kemasan dan pertimbangkan untuk tidak menggunakan seluruh bumbu apabila kandungan natriumnya tinggi. Meski begitu, jumlah natrium yang dikurangi tetap bergantung pada komposisi produk yang digunakan.
Baca Juga: Mengenal Kurikulum Berbasis Cinta Kemenag, Ini 6 Nilai Utama yang Ditanamkan kepada Siswa
Mi instan kemasan umumnya digolongkan sebagai makanan ultra-proses karena dibuat melalui proses industri dan dapat mengandung berbagai bahan tambahan, seperti pengatur rasa, pewarna, atau pengawet, sesuai formulasi produknya.
Dr Manan Vora menyoroti bahan tambahan seperti TBHQ, yaitu antioksidan sintetis yang digunakan pada sejumlah produk pangan untuk membantu mencegah kerusakan lemak. Penggunaan bahan tambahan pangan yang diizinkan harus mengikuti batas dan ketentuan keamanan yang berlaku.
Karena itu, keberadaan bahan tambahan tidak otomatis berarti suatu produk berbahaya. Hal yang perlu diperhatikan adalah kepatuhan terhadap standar keamanan pangan, jumlah konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan.
Kebiasaan terlalu sering mengonsumsi makanan ultra-proses juga dapat membuat seseorang lebih jarang memilih makanan segar yang kaya serat dan beragam zat gizi.
Mi instan dalam kemasan cup menawarkan kemudahan karena dapat disiapkan tanpa peralatan memasak yang rumit. Namun, penggunaan wadahnya tetap perlu diperhatikan.
Sebagian produk menggunakan bahan polistirena atau bahan lain yang dirancang untuk kemasan pangan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir