KebonCinta.com-- Menumpuk pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu menjadi kebiasaan yang dialami banyak orang. Ada yang menunda karena merasa tugasnya terlalu sulit, kehilangan semangat, atau memilih melakukan aktivitas lain yang terasa lebih menyenangkan. Kebiasaan ini sering dianggap sebagai bentuk kemalasan, padahal penyebabnya bisa lebih rumit daripada sekadar kurang disiplin.
Dalam psikologi, perilaku menunda pekerjaan dikenal sebagai prokrastinasi. Kebiasaan ini dapat dialami pelajar, mahasiswa, maupun pekerja profesional. Jika berlangsung terus-menerus, prokrastinasi berisiko mengganggu produktivitas, menambah tekanan pikiran, dan membuat seseorang semakin kesulitan menyelesaikan tanggung jawabnya.
Psikolog David Ballard, yang pernah memimpin Center for Organizational Excellence di American Psychological Association, menjelaskan bahwa prokrastinasi bukan hanya soal menunda aktivitas. Perilaku tersebut terjadi ketika seseorang menangguhkan pekerjaan yang sebenarnya perlu dilakukan, meskipun ia menyadari bahwa penundaan itu dapat membawa dampak buruk.
Psikolog klinis Alexander Rozental juga menjelaskan bahwa prokrastinasi dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk harapan terhadap hasil pekerjaan, seberapa penting tugas tersebut dirasakan, tenggat waktu, serta kecenderungan mengikuti keinginan sesaat daripada menyelesaikan kewajiban.
Artinya, seseorang bisa saja mengetahui apa yang harus dikerjakan dan memahami konsekuensi jika terlambat, tetapi tetap kesulitan memulai. Kabar baiknya, kebiasaan tersebut dapat dikurangi melalui langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Baca Juga: Contoh RPP Biologi Kelas 10 Semester 2 Kurikulum Merdeka, Lengkap dengan Tujuan dan Asesmen
Sebelum berusaha mengubah kebiasaan, penting untuk memahami alasan di baliknya. Tidak semua orang menunda pekerjaan karena penyebab yang sama.
Sebagian orang merasa takut melakukan kesalahan, sementara yang lain menganggap tugas tertentu membosankan atau terlalu berat. Ada pula yang kesulitan memulai karena tidak mengetahui langkah pertama yang perlu dilakukan.
Cobalah mengamati kapan kebiasaan menunda paling sering muncul. Perhatikan jenis pekerjaan yang biasanya dihindari, situasi yang membuat fokus terganggu, serta pikiran yang muncul ketika hendak memulai tugas.
Dengan memahami pemicunya, solusi dapat disesuaikan dengan masalah yang sebenarnya. Jika tugas terasa membingungkan, misalnya, membuat urutan pekerjaan bisa lebih membantu daripada sekadar memaksa diri untuk bekerja lebih keras.
Kemampuan berkonsentrasi setiap orang tidak selalu sama sepanjang hari. Ada orang yang lebih mudah berpikir pada pagi hari, sedangkan orang lain merasa lebih fokus pada siang atau malam hari.
Karena itu, kenali waktu ketika energi dan konsentrasi berada dalam kondisi terbaik. Gunakan periode tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam, seperti menulis laporan, belajar menghadapi ujian, atau menyusun rencana kerja.
Sementara itu, pekerjaan ringan dapat dijadwalkan ketika energi mulai menurun. Pola ini membantu penggunaan waktu menjadi lebih efektif tanpa harus memaksakan diri bekerja dengan intensitas tinggi sepanjang hari.
Namun, jangan lupa mempertimbangkan kebutuhan tidur dan istirahat. Menyesuaikan jadwal dengan kondisi tubuh bukan berarti mengorbankan waktu pemulihan demi mengejar produktivitas.
Melihat pekerjaan yang menumpuk dapat menimbulkan rasa kewalahan. Ketika seseorang merasa tugasnya terlalu besar atau sulit diselesaikan, keinginan untuk menghindarinya bisa semakin kuat.
Salah satu cara mengatasinya adalah membagi pekerjaan menjadi beberapa bagian kecil dengan target yang jelas.
Jika harus menulis artikel panjang, misalnya, jangan langsung berpikir untuk menyelesaikan seluruh tulisan dalam satu waktu. Mulailah dengan menentukan topik, membuat kerangka, mencari informasi, kemudian menulis bagian demi bagian.
Cara serupa bisa diterapkan saat belajar.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir