KebonCinta.com - Mendengar seseorang mengomentari pekerjaan atau kebiasaan kita memang tidak selalu nyaman. Apalagi jika sudah berusaha sebaik mungkin, masukan sederhana pun bisa terasa seperti penilaian terhadap seluruh kemampuan diri.
Namun, ketika setiap kritik langsung dianggap sebagai serangan, kesempatan untuk memahami pesan di baliknya bisa terlewat. Alih-alih memeriksa hal yang perlu diperbaiki, percakapan justru berakhir pada usaha membela diri.
Reaksi defensif dapat muncul dalam bentuk langsung membantah, memberikan alasan sebelum orang lain selesai berbicara, atau membalas dengan menunjukkan kesalahan pemberi masukan.
Respons tersebut membuat perhatian bergeser dari persoalan yang dibahas. Misalnya, masukan mengenai keterlambatan menyelesaikan tugas berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang lebih sering melakukan kesalahan.
Baca Juga: Bagaimana Menghadapi Kritik Tanpa Kehilangan Kepercayaan Diri?
Dalam bahan artikel yang menjadi acuan, sikap defensif terhadap kritik disebut sebagai kebiasaan yang patut direfleksikan. Meski demikian, satu respons buruk tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang secara keseluruhan.
Masukan mengenai satu tindakan tidak selalu berarti seseorang sedang merendahkan seluruh diri kita. Kalimat “penjelasan ini belum jelas”, misalnya, berbeda dengan menyatakan bahwa kita tidak memiliki kemampuan.
Memisahkan keduanya membantu kita melihat bagian yang sedang dibicarakan. Yang perlu diperiksa mungkin hanya cara menyampaikan informasi, ketelitian pekerjaan, atau kebiasaan tertentu.
Dengan memahami fokus kritik, perbaikan dapat diarahkan pada persoalan yang konkret tanpa harus menganggap seluruh usaha kita gagal.
Baca Juga: Mengkritik Tanpa Melukai, Mungkinkah? Ini Cara Menyampaikan Kritik dengan Bijak
Tidak semua kritik disampaikan dengan baik atau memiliki dasar yang kuat. Karena itu, mengevaluasi diri bukan berarti menyetujui setiap komentar.
Perhatikan apakah masukan menyebut persoalan yang jelas, memiliki contoh, dan berkaitan dengan hal yang dapat diperbaiki. Jika pesannya masih kabur, kita dapat meminta penjelasan: bagian mana yang dianggap bermasalah dan perubahan apa yang diharapkan?
Komentar yang hanya berisi penghinaan berbeda dari masukan yang membantu memahami kekurangan. Kita tetap dapat menetapkan batas terhadap cara penyampaian yang merendahkan.
Saat merasa tersinggung, tidak semua masukan harus langsung dijawab. Memberi jeda dapat membuka kesempatan untuk memahami isi komentar sebelum menentukan respons.
Setelah itu, pertimbangkan bagian yang relevan. Jika ada kekeliruan, akui secara spesifik dan tentukan langkah perbaikannya. Jika tidak sependapat, sampaikan alasan dengan tetap membahas persoalan yang sama.
Baca Juga: Pentingnya Muhasabah Sebelum Mengkritik Orang Lain
Rasa tidak nyaman saat menerima kritik tidak harus menghalangi evaluasi diri. Dengan memeriksa isi masukan dan membedakannya dari penilaian terhadap harga diri, kita dapat memilih hal yang layak diperbaiki tanpa menerima semua komentar begitu saja. ***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir