KebonCinta.com – Dalam kegiatan belajar Al-Qur'an, istilah tahsin, tahfidz, dan murajaah sering terdengar di pesantren, madrasah, maupun rumah. Ketiganya saling berkaitan, tetapi mempunyai tujuan berbeda. Memahami perbedaannya membantu pelajar dan orang tua menyusun kebiasaan mengaji yang terarah, bukan hanya mengejar banyaknya hafalan.
Tahsin berarti memperbaiki atau memperindah bacaan Al-Qur'an. Pembelajarannya berfokus pada ketepatan pengucapan huruf, makhraj (tempat keluarnya huruf), sifat huruf, panjang-pendek bacaan, serta penerapan kaidah tajwid.
Dalam praktiknya, santri membaca ayat di hadapan guru, kemudian mendapat koreksi. Misalnya, guru membimbing perbedaan bunyi huruf yang mirip atau memperbaiki bacaan mad yang belum sesuai. Proses ini dapat menggunakan metode talaqqi, yaitu belajar secara langsung dengan mendengarkan dan menirukan bacaan pembimbing.
Tahsin tidak hanya untuk pemula. Orang yang sudah lancar membaca atau mempunyai hafalan pun tetap perlu memperbaiki kualitas bacaannya.
Tahfidz adalah kegiatan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an secara bertahap hingga dapat dibaca kembali tanpa melihat mushaf. Pembelajaran tahfidz dapat dimulai dari surah pendek, dilanjutkan menurut kemampuan dan arahan guru.
Contohnya, seorang siswa menghafal beberapa ayat dari surah pilihan. Ia mendengarkan bacaan yang benar, membaca berulang sambil melihat mushaf, kemudian mencoba melafalkannya tanpa melihat. Setelah cukup lancar, hafalan disetorkan kepada pembimbing untuk diperiksa.
Target tidak harus sama bagi semua anak. Kemampuan membaca, usia, waktu belajar, dan kondisi masing-masing perlu dipertimbangkan. Hafalan yang benar dan terjaga lebih penting daripada menambah banyak ayat tetapi sering keliru.
Murajaah atau murojaah adalah kegiatan mengulang hafalan Al-Qur'an yang sudah dipelajari agar tetap kuat dan tidak mudah terlupakan. Murajaah berbeda dari menambah hafalan baru karena fokusnya pada pemeliharaan dan perbaikan hafalan lama.
Murajaah dapat dilakukan sendiri, bersama teman, atau dengan menyetorkan bacaan kepada guru. Ketika lupa sambungan ayat, siswa kembali melihat mushaf, memperbaiki kesalahan, lalu mengulang bagian tersebut sampai lebih lancar.
Kegiatan murajaah rutin juga diterapkan di berbagai madrasah sebagai bagian dari pembinaan hafalan dan pemeriksaan ketepatan tajwid.
Ketiganya bukan tahapan yang harus dipisahkan secara kaku. Saat tahfidz, santri tetap memerlukan tahsin. Ketika murajaah, kesalahan bacaan juga dapat diperbaiki. Guru dapat menyesuaikan porsi masing-masing kegiatan menurut kebutuhan peserta didik.
Berikut contoh jadwal 30 menit per hari, bukan ketentuan wajib. Waktu bisa dipindahkan mengikuti sekolah, ibadah, dan kegiatan keluarga.
Apabila bacaan dasar masih banyak salah, waktu tahsin dapat diperpanjang dan target hafalan baru dikurangi. Sebaliknya, siswa yang sudah baik bacaannya dapat menambah porsi murajaah sesuai jumlah hafalan yang dimiliki.
Agar tidak hanya mengulang surah yang paling disukai, bagi hafalan lama ke beberapa kelompok.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir