KebonCinta.com - Penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di kelas 3 sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) mulai tahun ajaran 2027/2028 mendorong perlunya persiapan tenaga pendidik. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, British Council menghadirkan program pelatihan yang berfokus pada peningkatan kemampuan guru sekaligus penyediaan sumber belajar.
Program ini menjadi salah satu solusi atas tantangan Kementerian Agama (Kemenag), yang perlu mempersiapkan guru kelas MI agar mampu mengajarkan bahasa Inggris meskipun latar belakang pendidikan mereka beragam.
Melalui program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP), guru akan memperoleh kesempatan untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, serta mengembangkan strategi mengajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
School Systems Lead British Council, Buyung Sudrajat, menjelaskan bahwa pelatihan tidak hanya berorientasi pada pemberian materi. Guru juga akan dibekali berbagai sumber pembelajaran yang dapat digunakan dan disesuaikan dengan kondisi kelas.
Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026
Salah satu fokus utama program ini adalah membantu guru menemukan bahan ajar bahasa Inggris yang praktis dan relevan dengan kurikulum.
British Council telah memetakan berbagai sumber belajar dalam bentuk booklet. Materinya mencakup sumber pembelajaran, rencana pelajaran atau lesson plan, serta aktivitas dan lagu yang disesuaikan dengan capaian pembelajaran.
Dengan panduan tersebut, guru dapat memilih materi berdasarkan topik yang akan diajarkan. Misalnya, ketika ingin mengajarkan cara memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, guru dapat mencari sumber belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
Buyung memberikan contoh bahwa sumber ajar disusun agar guru lebih mudah menentukan materi yang relevan untuk kegiatan di kelas.
"Sudah kami susun, kami petakan dalam bentuk booklet. Jadi resources kami, lesson plan, activity, song tadi dicocokkan dengan learning outcomes atau capaian pembelajaran yang ada di kurikulum," ucap Buyung.
Ketersediaan materi yang beragam diharapkan membantu guru menyampaikan pelajaran dengan cara yang lebih menarik, terutama bagi siswa sekolah dasar yang membutuhkan pendekatan belajar sesuai usia dan tingkat pemahaman.
Penyediaan bahan ajar saja dinilai belum cukup. Guru juga perlu memahami cara menggunakan materi tersebut agar sesuai dengan kondisi peserta didik.
Karena itu, pelatihan akan mencakup lokakarya Community of Practice (CoP). Dalam kegiatan ini, guru akan belajar mengakses sumber pembelajaran, memilih materi yang sesuai, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan kelas.
British Council memahami bahwa satu bahan ajar belum tentu cocok digunakan dengan cara yang sama di semua sekolah. Perbedaan kemampuan siswa, lingkungan belajar, dan situasi kelas membuat guru perlu memiliki keterampilan untuk melakukan adaptasi.
Buyung menegaskan bahwa guru merupakan pihak yang paling memahami karakteristik peserta didiknya.
"Yang paling mengerti adalah gurunya masing-masing. Jadi gurunya akan dibekali keterampilan bagaimana mereka mengadaptasi untuk konteks kelasnya masing-masing," tandasnya.
Dengan demikian, guru diharapkan tidak hanya mengandalkan materi yang tersedia, tetapi juga mampu menentukan pendekatan pembelajaran yang paling sesuai.
Program STEPS-CoP menggunakan pendekatan Community of Practice, yaitu model pembelajaran melalui komunitas yang memungkinkan peserta saling bertukar pengetahuan dan pengalaman.
Dalam pelaksanaannya, British Council tidak akan sepenuhnya mengandalkan moderator internasional. Fasilitator justru diharapkan berasal dari lingkungan pendidikan, seperti guru, pengawas sekolah, dosen, maupun praktisi yang berpengalaman mendampingi pendidik lain.
Menurut Buyung, model serupa telah diterapkan di Mesir dan Vietnam dengan jumlah peserta mencapai 16 ribu orang. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar keyakinan British Council terhadap pendekatan berbasis komunitas.
Model ini berpotensi membuat proses pengembangan kompetensi lebih dekat dengan kebutuhan guru di lapangan. Para pendidik dapat berdiskusi tentang kendala yang mereka hadapi sekaligus berbagi praktik yang dinilai efektif.
Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan MI dan MTs Kemenag, Rini Rizki Rahmayani, menyambut baik program pelatihan tersebut. Ia menilai struktur pelatihan yang ditawarkan dapat menjadi rujukan untuk pengembangan program sejenis di lingkungan Kemenag.
Tantangan yang dihadapi cukup besar karena guru kelas MI tidak seluruhnya memiliki latar belakang pendidikan bahasa Inggris. Kemenag perlu memastikan bahwa mereka memperoleh dukungan yang memadai sebelum kebijakan mulai diterapkan.
Pelatihan, bahan ajar, dan komunitas belajar diharapkan menjadi bagian dari persiapan tersebut. Namun, efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh keberlanjutan pendampingan serta kemampuan guru menerapkan hasil pelatihan dalam pembelajaran sehari-hari.
Jika berjalan optimal, program ini dapat membantu guru MI membangun kepercayaan diri dalam mengajar bahasa Inggris sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang lebih sesuai bagi siswa kelas 3 mulai tahun ajaran 2027/2028.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir