KebonCinta.com — Pemanfaatan Internet of Things atau IoT mulai menunjukkan manfaat nyata pada sektor pertanian dan perikanan.
Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong teknologi digital tidak hanya berkembang di kota besar.
Teknologi juga diarahkan masuk ke desa untuk membantu meningkatkan produktivitas petani serta memperkuat ketahanan pangan.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan penerapan teknologi harus menyentuh persoalan nyata masyarakat.
“Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan,” ujar Meutya.
Ia menjelaskan digitalisasi perlu masuk ke wilayah desa dan sentra produksi pangan.
Salah satu contoh penerapan terdapat di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Petani menggunakan sensor tanah bernama Jinawi untuk mengetahui kondisi lahan.
Informasi dari sensor membantu petani menentukan kebutuhan pupuk berdasarkan keadaan tanah.
Sebelum menggunakan perangkat tersebut, kebutuhan pupuk disebut mencapai sekitar 1.600 kilogram per hektare.
Setelah kondisi tanah dapat diukur dengan lebih baik, penggunaan pupuk turun menjadi sekitar 750 kilogram per hektare.
Artinya, kebutuhan pupuk dapat berkurang sekitar 53 persen.
Petani Sumarno mengatakan perangkat tersebut membantu menentukan pemupukan secara lebih tepat.
“Alat digital Jinawi sangat membantu, terutama dalam menentukan pemupukan,” ujarnya.
Menurutnya, sensor menunjukkan tanah masih memiliki tingkat kesuburan tertentu sehingga petani tidak perlu menggunakan pupuk sebanyak sebelumnya.
Penggunaan IoT juga diterapkan dalam sektor perikanan.
Kelompok Pembudidaya Ikan Cipancur Cimahi Farm Feed di Kabupaten Sukabumi memanfaatkan aerator berbasis IoT.
Perangkat tersebut membantu menjaga kandungan oksigen di dalam air kolam.
Kondisi oksigen menjadi faktor penting dalam pertumbuhan dan kesehatan ikan.
Kelompok yang beranggotakan sekitar 20 orang tersebut mampu menghasilkan sekitar 40 ton ikan nila dalam satu siklus panen.
Sebagian hasil produksi juga digunakan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat.
Kelompok tersebut memasok sekitar 400 kilogram ikan nila setiap minggu untuk kebutuhan operasional dapur program Makan Bergizi Gratis di Sukabumi.
Contoh tersebut menunjukkan teknologi digital tidak selalu harus berbentuk aplikasi rumit.
Sensor sederhana yang memberikan informasi tepat dapat membantu petani mengambil keputusan yang lebih efisien.
Penggunaan pupuk yang lebih tepat juga dapat membantu menekan biaya produksi.
Pada sektor perikanan, pemantauan kondisi kolam dapat membantu mengurangi risiko akibat kualitas air yang tidak sesuai.
Namun penerapan teknologi tetap membutuhkan pendampingan.
Petani dan pembudidaya perlu memahami cara membaca data, menggunakan perangkat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dihasilkan.
Infrastruktur jaringan serta biaya perangkat juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan ketika teknologi akan diterapkan di lebih banyak desa.
Kemkomdigi berharap pemanfaatan IoT dapat diperluas ke sentra produksi pangan lainnya.
Jika teknologi digunakan sesuai kebutuhan masyarakat, digitalisasi desa tidak hanya memberikan akses internet.
Teknologi dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya dan memperkuat ketersediaan pangan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir