KebonCinta.com — Keterbatasan koneksi internet masih menjadi tantangan pembelajaran digital di sejumlah wilayah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T.
Telkom University bersama AirNav Indonesia mengembangkan teknologi kecerdasan buatan yang mencoba menjawab persoalan tersebut.
Teknologi itu diberi nama EduNusa LLM.
EduNusa dirancang agar dapat membantu proses pembelajaran siswa di wilayah dengan jaringan internet terbatas bahkan tanpa koneksi internet secara terus-menerus.
Berbeda dengan banyak layanan AI yang bergantung kepada server melalui internet, EduNusa dapat menggunakan server lokal.
Pengetahuan dan materi pembelajaran dapat disimpan pada perangkat yang ditempatkan di sekolah atau wilayah pengguna.
Materi dapat diperbarui ketika tersedia koneksi internet.
Setelah proses pembaruan selesai, siswa dan guru dapat kembali mengakses sistem melalui jaringan lokal.
Direktur Center of Excellence AI for Learning and Optimization Telkom University Prof. Agus Pratondo menjelaskan pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi persoalan logistik pendidikan di daerah terpencil.
“Knowledge itu kita simpan dalam server lokal,” ujar Agus.
Menurutnya, pembaruan materi dapat dilakukan dari pusat kemudian dibawa ke wilayah yang membutuhkan sehingga akses belajar tidak bergantung sepenuhnya pada koneksi internet setiap saat.
EduNusa juga dirancang dengan pendekatan pembelajaran Sokratis.
Artinya, sistem tidak dibuat hanya untuk memberikan jawaban instan setiap kali siswa memasukkan sebuah pertanyaan.
AI justru diarahkan untuk mengajak siswa berpikir secara bertahap.
Baca Juga: Siapa yang Diprioritaskan dalam Pengusulan PIP Fase 2 Tahun 2026? Cek Kelompok Sasarannya
Pertanyaan lanjutan dapat diberikan agar siswa menemukan konsep dan memahami alasan di balik jawaban.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena penggunaan AI di kalangan pelajar membawa tantangan baru.
Siswa berpotensi menggunakan teknologi hanya untuk mendapatkan jawaban cepat tanpa memahami proses penyelesaiannya.
EduNusa mencoba mengubah AI dari sekadar mesin jawaban menjadi pendamping proses berpikir.
Sebagai contoh, dalam pelajaran matematika, sistem dapat mengarahkan siswa melalui beberapa tahapan pertanyaan sebelum sampai pada penyelesaian.
Kolaborasi AirNav dan Telkom University tidak hanya menghasilkan EduNusa.
Terdapat pula Medisiana AI Model sebagai pendamping pembelajaran penalaran klinis bagi mahasiswa Kedokteran Telkom University.
Produk lain adalah SAFE-ME yang digunakan untuk membantu organisasi menilai tingkat kematangan penerapan AI.
AirNav juga mendukung pengembangan laboratorium riset AI bersama Telkom University.
Sebanyak 10 unit sistem komputasi AI berkinerja tinggi disediakan untuk mendukung penelitian dan pengujian.
Kemdiktisaintek turut menyoroti potensi teknologi tersebut untuk memperluas akses pendidikan.
Daerah 3T selama ini menghadapi tantangan tidak hanya dalam koneksi digital, tetapi juga distribusi tenaga pendidik dan sumber belajar.
Namun teknologi AI tetap diposisikan sebagai alat bantu.
Guru masih memegang peran penting dalam mendampingi siswa, mengarahkan pembelajaran serta memahami kebutuhan setiap anak.
Jika pengembangannya berhasil diterapkan secara luas, EduNusa dapat menjadi salah satu contoh bahwa pemanfaatan AI pendidikan tidak harus selalu membutuhkan koneksi internet berkecepatan tinggi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir