KebonCinta.com - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/SMK/sederajat 2026 menghadirkan sejumlah perubahan yang perlu diketahui siswa. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melakukan penyesuaian pada jumlah soal Matematika wajib, durasi pengerjaan, hingga sistem pelaporan skor.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari evaluasi penyelenggaraan TKA sebelumnya. Salah satu perhatian utama adalah waktu pengerjaan Matematika yang dinilai belum cukup bagi sebagian peserta untuk menyelesaikan seluruh soal dengan optimal.
Gelombang pertama TKA SMA/sederajat 2026 dijadwalkan mulai Senin, 26 Oktober 2026. Pelaksanaannya berlangsung selama empat hari, dengan tiga hari pertama dialokasikan untuk mengerjakan mata pelajaran wajib.
Lantas, apa saja perubahan yang membedakan TKA SMA 2026 dari pelaksanaan tahun sebelumnya?
Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026
Salah satu perubahan utama dalam TKA SMA 2026 adalah pengurangan jumlah soal Matematika wajib. Pada pelaksanaan 2025, peserta harus mengerjakan 30 soal dalam waktu 75 menit.
Kondisi tersebut menuai keluhan dari sejumlah siswa karena waktu yang tersedia dirasakan cukup terbatas untuk menyelesaikan seluruh pertanyaan. Menanggapi masukan itu, Kemendikdasmen mengevaluasi komposisi soal agar alokasi waktu lebih proporsional.
Pada TKA 2026, jumlah soal Matematika wajib dikurangi menjadi 25 butir. Dengan demikian, peserta memiliki waktu rata-rata tiga menit untuk mengerjakan setiap soal apabila durasi pengerjaan tetap 75 menit.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen, Rahmawati, menjelaskan penyesuaian tersebut dalam acara taklimat media hasil TKA jenjang SMP/MTs dan SD/MI pada Mei 2026.
"Tahun 2026 ini, InsyaAllah satu soal diberikan alokasi waktu 3 menit. Jadi, dengan 75 menit waktu alokasi yang disediakan adalah 25 butir soal pertanyaan," jelas Rahmawati.
Kebijakan ini memberikan ruang pengerjaan yang lebih longgar per butir soal. Namun, siswa tetap perlu memahami konsep Matematika dan mengatur waktu secara efektif agar dapat menjawab pertanyaan dengan cermat.
Penyesuaian berikutnya berkaitan dengan durasi pengerjaan TKA SMA/sederajat. Jika sebelumnya waktu ujian hanya 60 menit, pada 2026 alokasi tersebut diperpanjang menjadi 75 menit.
Artinya, peserta memperoleh tambahan waktu selama 15 menit. Perubahan ini merupakan tindak lanjut dari masukan satuan pendidikan di berbagai daerah mengenai kebutuhan waktu pengerjaan yang lebih memadai.
Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen juga mengonfirmasi adanya pembaruan pelaksanaan TKA melalui akun resminya.
"Selain penyesuaian durasi, terdapat pula beberapa pembaruan dalam pelaksanaan TKA yang perlu Sobat Belajar ketahui," tulis BKPDM Kemendikdasmen dalam unggahannya, dikutip Kamis (22/10/2026).
Penambahan waktu diharapkan membantu siswa membaca soal, memahami instruksi, dan mempertimbangkan jawaban tanpa terlalu terburu-buru. Meski demikian, peserta tetap harus memperhatikan durasi ujian yang ditetapkan untuk setiap mata pelajaran.
Tidak hanya jumlah soal dan durasi, sistem pelaporan nilai TKA SMA 2026 juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya skor menggunakan rentang 0–100, kini hasil asesmen dilaporkan dalam skala 200–800.
Perubahan ini tidak berarti soal TKA menjadi lebih sulit. Skala tersebut digunakan untuk menggambarkan kemampuan peserta melalui sistem penilaian terstandar, bukan sekadar menunjukkan persentase jawaban benar.
BKPDM Kemendikdasmen menegaskan bahwa perubahan sistem pelaporan skor tidak berkaitan langsung dengan tingkat kesulitan soal.
"Perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit. Kesulitan ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala menentukan bagaimana hasil dilaporkan," tulis BKPDM Kemendikdasmen.
Sistem tersebut berkaitan dengan penggunaan Item Response Theory Two-Parameter Logistic Model (IRT 2PL). Metode ini memperhitungkan pola jawaban peserta serta karakteristik soal, termasuk tingkat kesulitan dan daya pembeda.
Dengan sistem tersebut, hasil TKA diharapkan dapat memberikan gambaran kemampuan akademik yang lebih terstandar. Oleh karena itu, siswa tidak perlu langsung menganggap skor 200 sebagai nilai buruk atau menyamakan skor 800 dengan persentase nilai konvensional.
Tiga perubahan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian dalam penyelenggaraan TKA SMA/SMK/sederajat 2026. Pengurangan soal Matematika, penambahan waktu pengerjaan, dan perubahan skala skor menjadi bagian dari pembaruan yang perlu dipahami peserta.
Siswa sebaiknya tetap mempersiapkan diri dengan mempelajari materi sesuai kisi-kisi, berlatih mengerjakan soal, serta membiasakan diri mengelola waktu selama ujian.
Memahami sistem penilaian juga tidak kalah penting agar peserta dapat membaca hasil asesmen secara tepat. Dengan persiapan yang baik, siswa diharapkan mampu mengikuti TKA secara lebih tenang dan menunjukkan kemampuan akademiknya secara optimal.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir