keboncinta.com- Tradisi membaca Maulid Diba' merupakan salah satu kegiatan keagamaan yang dikenal luas di lingkungan pesantren, majelis taklim, dan masyarakat Muslim Indonesia. Kegiatan yang sering disebut Diba'an ini biasanya diisi dengan pembacaan kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW, pujian kepada Rasulullah, serta lantunan selawat secara bersama-sama.
Di sejumlah pesantren, Diba'an dilaksanakan secara rutin, misalnya pada malam tertentu setiap pekan. Kegiatan ini juga sering menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bagi santri, pembacaan Maulid Diba' bukan hanya kegiatan melantunkan syair Arab. Tradisi tersebut dapat menjadi kesempatan mengenal sejarah Rasulullah, mempelajari makna selawat, dan membiasakan adab ketika mengikuti majelis keagamaan.
Lantas, siapa pengarang Kitab Maulid Diba', bagaimana susunan bacaannya, dan apa saja adab yang perlu diperhatikan?
Maulid Diba' merupakan karya sastra keagamaan berbahasa Arab yang berisi pujian, selawat, dan kisah mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Nama kitab ini dinisbatkan kepada pengarangnya, Imam Abdurrahman Ad-Diba'i.
Dalam tradisi pesantren, pembacaan kitab tersebut dikenal sebagai Diba'an.
Sebagian isinya disusun dalam bentuk prosa berirama dan syair sehingga dapat dilantunkan dengan nada tertentu.
Kegiatan Diba'an umumnya dilakukan secara berjamaah dengan pembagian bagian bacaan antara pemimpin majelis dan peserta.
Namun, pembacaan Maulid Diba' tidak mempunyai satu bentuk penyelenggaraan yang seragam di seluruh pesantren.
Kitab Maulid Diba' ditulis oleh Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Muhammad Ad-Diba'i, seorang ulama yang berasal dari Zabid, Yaman.
Beliau dikenal dalam literatur Islam sebagai ulama yang mempunyai perhatian terhadap hadis dan karya keagamaan.
Nama Ad-Diba'i kemudian melekat pada kitab maulid yang disusunnya.
Penelitian berjudul Hadith Transmission and Cultural Dissemination in the Indonesian Archipelago: The Role of Maulid al-Diba'i, yang tercatat dalam Garuda Kemdiktisaintek, menjelaskan hubungan tradisi Maulid Diba' dengan penyebaran nilai keagamaan melalui kegiatan bersama di masyarakat Indonesia.
Tradisi Diba'an berkembang melalui jaringan ulama, pesantren, majelis selawat, dan kegiatan keagamaan masyarakat.
Kitab Maulid Diba' menjadi salah satu bacaan yang dikenal dalam tradisi maulid, bersama karya lainnya seperti Al-Barzanji dan Simtudduror.
Pembacaannya dapat dilakukan di masjid, musala, rumah warga, maupun lingkungan asrama pesantren.
Di sebagian pesantren, kegiatan ini dilaksanakan bergiliran oleh kelompok santri untuk melatih keberanian membaca teks Arab dan melantunkan selawat.
Melalui kegiatan tersebut, santri juga dapat memperoleh pengalaman dalam memimpin majelis serta mengatur pelaksanaan acara.
Baca Juga: Kemenag Ubah Maulid Nabi 1448 H Jadi Gerakan Nasional, Jutaan Warga Diajak Berselawat
Kitab Maulid Diba' memuat beberapa pokok pembahasan yang saling berkaitan.
Pertama, pujian dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Kedua, kisah mengenai kelahiran serta kemuliaan Rasulullah.
Ketiga, gambaran mengenai sifat dan akhlak beliau.
Keempat, syair yang mengekspresikan penghormatan dan kecintaan kepada Nabi.
Sebagian kisah dalam literatur maulid mempunyai karakter naratif dan pujian keagamaan. Karena itu, pembaca perlu membedakan keterangan sejarah yang mempunyai dasar kuat dengan kisah yang memerlukan penelaahan sumber lebih lanjut.
Bimbingan ustaz dapat membantu santri memahami makna teks secara tepat.
Susunan kegiatan Diba'an dapat berbeda sesuai tradisi pesantren. Berikut contoh alur yang sering dijumpai.
Kegiatan biasanya dimulai dengan salam, pembukaan singkat, serta pembacaan Al-Fatihah sesuai kebiasaan majelis.
Pemimpin acara dapat menyampaikan tujuan kegiatan agar peserta memahami makna pembacaan maulid.
Setelah pembukaan, jamaah melantunkan selawat yang digunakan dalam kelompok tersebut.
Bacaan dipimpin oleh petugas agar peserta dapat mengikuti dengan tertib.
Bagian utama adalah membaca teks maulid secara berurutan berdasarkan kitab yang digunakan.
Santri dapat membaca secara bergantian atau bersama-sama.
Pembacaan sebaiknya memperhatikan ketepatan lafaz, harakat, dan pengucapan bahasa Arab.
Pada sebagian majelis, terdapat bagian yang dikenal sebagai mahallul qiyam, ketika jamaah berdiri sambil melantunkan selawat.
Dalam tradisi pengamalnya, berdiri tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Namun, berdiri ketika pembacaan maulid bukan rukun atau kewajiban agama.
Terdapat perbedaan pandangan ulama mengenai praktik tersebut. Karena itu, pelaksanaannya perlu disikapi secara proporsional.
Kegiatan biasanya diakhiri dengan doa kepada Allah SWT.
Isi doa dapat berupa permohonan ampunan, keselamatan, serta kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.
Susunan tersebut merupakan contoh kegiatan Diba'an, bukan tata urutan wajib yang harus digunakan semua pesantren.
Salah satu tujuan utamanya adalah menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah melalui pengenalan kehidupan serta akhlak beliau.
Selain itu, kegiatan ini dapat melatih kemampuan santri membaca bahasa Arab, khususnya teks sastra keagamaan.
Tradisi Diba'an juga menjadi ruang berkumpul dan menjalin silaturahmi.
Namun, membaca Maulid Diba' tidak boleh dianggap sebagai pengganti kewajiban salat, menuntut ilmu, atau menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan peserta.
Pertama, meluruskan niat untuk mengikuti kegiatan keagamaan dan mempelajari keteladanan Nabi.
Kedua, menjaga kebersihan pakaian, tempat, dan perlengkapan kegiatan.
Ketiga, membaca teks dengan tertib tanpa mengganggu peserta lain.
Keempat, tidak menjadikan keindahan suara sebagai satu-satunya tujuan kegiatan.
Kelima, menghargai orang lain yang mempunyai pandangan berbeda mengenai tradisi pembacaan maulid.
Keenam, memperhatikan makna bacaan agar kegiatan tidak berhenti pada pelafalan syair.
Baca Juga: Faedah Membaca Sholawat Ya Robbi Sholli 'Ala Muhammad dalam Peringatan Maulid Rasulullah
Tradisi Diba'an tidak terbatas pada bulan Rabiul Awal.
Sebagian pesantren melaksanakannya secara rutin sepanjang tahun, sedangkan kegiatan lainnya diselenggarakan khusus ketika memperingati Maulid Nabi.
Tidak terdapat kewajiban bagi seluruh Muslim untuk melaksanakan pembacaan Kitab Diba' pada tanggal tertentu.
Jadwal kegiatan dapat mengikuti tradisi dan kebutuhan masing-masing lembaga.
Pembacaan Maulid Diba' dapat dikembangkan menjadi kegiatan pendidikan yang lebih bermakna.
Misalnya, setelah pembacaan selesai, ustaz mengajak santri mendiskusikan satu sifat Rasulullah yang terkandung dalam teks.
Santri kemudian diminta memberikan contoh penerapannya, seperti bersikap jujur, menjaga amanah, atau membantu teman.
Dengan cara tersebut, tradisi Diba'an tidak hanya melatih hafalan dan pelafalan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan akhlak.
Melalui pemahaman sejarah, susunan bacaan, dan adab pelaksanaannya, Maulid Diba' dapat terus dipelajari sebagai bagian dari khazanah keagamaan pesantren.
Nilai yang paling penting bukan semata-mata kemeriahan acara, melainkan tumbuhnya pengetahuan dan kesungguhan untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir