Gaya Hidup
Al Fina

Waspada Sebelum Ikut Tren Krim Estrogen untuk Wajah, Ini Risiko yang Disorot Dokter

Waspada Sebelum Ikut Tren Krim Estrogen untuk Wajah, Ini Risiko yang Disorot Dokter

26 Oktober 2026 | 14:59

KebonCinta.com Tren perawatan kulit berbasis hormon mulai menjadi perhatian, salah satunya penggunaan krim estrogen untuk wajah. Produk ini dipasarkan dengan klaim membantu menjaga elastisitas kulit, meningkatkan kolagen, dan menyamarkan kerutan yang muncul seiring bertambahnya usia.

Ketertarikan terhadap krim estrogen tidak terlepas dari perubahan kulit yang dapat terjadi ketika kadar estrogen menurun menjelang menopause. Meski demikian, penggunaan hormon sebagai bahan perawatan wajah tidak bisa disamakan dengan penggunaan skincare biasa.

Para ahli masih menyoroti keterbatasan data mengenai efektivitas dan keamanan produk tersebut, termasuk seberapa banyak hormon yang dapat terserap melalui kulit.

Karena itu, sebelum mengikuti tren krim estrogen, penting untuk memahami sejumlah risiko yang masih menjadi perhatian para pakar.

Baca Juga: Gratis Masuk Ancol hingga 31 Oktober 2026, Ada Diskon Kuliner 15 Persen! Cek Jadwal dan Syaratnya 

Penyerapan Hormon ke dalam Tubuh Belum Diketahui Pasti

Salah satu persoalan utama dalam penggunaan krim estrogen untuk wajah adalah ketidakpastian mengenai jumlah hormon yang dapat menembus kulit dan masuk ke aliran darah.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Jacqueline Marecheau menekankan bahwa tingkat penyerapan estrogen dari krim yang diformulasikan khusus untuk wajah belum diketahui secara pasti.

Dermatolog kosmetik Debra Jaliman juga mengingatkan bahwa ketidakpastian ini perlu menjadi pertimbangan sebelum seseorang menggunakan produk tersebut.

“Kita tidak tahu berapa banyak estrogen yang diserap dari krim ini. Hal itu mengkhawatirkan karena kulit wajah merupakan kulit tertipis di tubuh, sehingga estrogen bisa lebih banyak terserap dibandingkan jika dioleskan pada bagian tubuh lain,” terang Jaliman.

Ketidakjelasan mengenai penyerapan hormon membuat keamanan penggunaan jangka panjangnya belum dapat dipastikan. Oleh sebab itu, krim berbasis estrogen tidak sebaiknya digunakan hanya berdasarkan tren atau klaim manfaat yang beredar di media sosial.

Belum Ada Bukti Kuat untuk Mengatasi Kerutan

Selain persoalan keamanan, efektivitas krim estrogen untuk mengurangi tanda penuaan juga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Krim yang mengandung estriol secara teori dapat memengaruhi reseptor estrogen di kulit dan berpotensi mendukung produksi kolagen. Namun, hasil penelitian yang tersedia belum cukup untuk memastikan bahwa mekanisme tersebut menghasilkan perbaikan penampilan yang nyata.

Viktoryia Kazlouskaya menjelaskan bahwa sejumlah penelitian kecil menunjukkan kemungkinan peningkatan sintesis kolagen. Akan tetapi, temuan tersebut belum memastikan hasil yang bisa diamati dalam penggunaan sehari-hari.

Dengan demikian, klaim bahwa krim estrogen mampu menghilangkan kerutan atau membuat kulit kembali kencang perlu disikapi secara kritis.

Di Amerika Serikat, estrogen juga belum disetujui untuk digunakan secara khusus sebagai perawatan kerutan atau kondisi kulit akibat penuaan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa konsumen perlu membedakan antara potensi ilmiah suatu bahan dan manfaat produk yang sudah terbukti.

Berpotensi Memperburuk Beberapa Kondisi Kulit

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan munculnya atau memburuknya masalah kulit tertentu pada sebagian pengguna.

Krim estrogen berpotensi memperburuk beberapa kondisi, seperti:

1. Jerawat, terutama pada orang yang rentan mengalami peradangan atau penyumbatan pori.

2. Melasma, yaitu kondisi hiperpigmentasi yang menyebabkan bercak kecokelatan pada kulit.

3. Rosacea, kondisi kulit yang dapat ditandai dengan kemerahan dan sensitivitas.
 

Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, seseorang yang memiliki masalah kulit tertentu sebaiknya tidak langsung mencoba produk berbasis hormon tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.

Dermatolog kosmetik Justine Park juga menyampaikan kehati-hatian terhadap penggunaan krim tersebut pada pasien berusia di bawah 40 tahun atau mereka yang memiliki riwayat kanker payudara.

Riwayat kesehatan menjadi pertimbangan penting ketika mengevaluasi produk yang mengandung hormon. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menilai apakah suatu perawatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan individu.

Apa Alternatif yang Bisa Dipilih untuk Merawat Kulit?

Bagi orang yang ingin menjaga kesehatan kulit tanpa menggunakan produk berbasis hormon, terdapat sejumlah alternatif skincare nonhormonal yang memiliki bukti penggunaan lebih luas.

1. Retinoid

Retinoid dapat membantu memperbaiki tekstur kulit dan mendukung pembaruan sel. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit karena dapat menyebabkan iritasi, terutama pada tahap awal.

2. Vitamin C

Vitamin C merupakan antioksidan yang membantu melindungi kulit dari radikal bebas. Bahan ini juga digunakan dalam produk perawatan untuk membantu merawat warna dan tampilan kulit.

3. Peptida

Peptida menjadi salah satu kandungan yang banyak digunakan dalam produk perawatan kulit. Manfaatnya bergantung pada jenis peptida, formulasi produk, dan bukti yang mendukung klaimnya.

4.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Krim estrogen Kesehatan wajah Perawatan Kulit

Komentar Pengguna