Legal secretaries juga masuk dalam 15 pekerjaan yang diproyeksikan menurun tercepat.
WEF secara khusus menyoroti kemunculan legal secretaries bersama graphic designers dalam daftar penurunan sebagai perkembangan baru dibanding laporan sebelumnya, dan mengaitkannya dengan meningkatnya kemampuan generative AI mengerjakan pekerjaan berbasis pengetahuan.
Pembuatan dokumen standar, pencarian informasi dan administrasi hukum sekarang dapat dilakukan dengan lebih sedikit pekerjaan manual.
Nomor terakhir adalah telemarketers.
Chatbot, automated calling, CRM, pemasaran digital dan sistem AI memungkinkan perusahaan menghubungi serta menyaring calon pelanggan dalam skala sangat besar.
Namun penjualan dengan nilai tinggi tetap membutuhkan kemampuan komunikasi dan membangun kepercayaan yang tidak mudah diotomatisasi sepenuhnya.
Tidak.
WEF menyebut perluasan akses digital, AI dan teknologi pemrosesan informasi, serta robot dan sistem otonom sebagai pendorong utama penurunan banyak pekerjaan tersebut. Faktor demografi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat juga ikut berpengaruh pada sejumlah profesi.
Karena itu, menyebut seluruh pekerjaan tersebut “hilang gara-gara ChatGPT” jelas terlalu menyederhanakan keadaan.
Contohnya industri percetakan sudah berubah sejak lama akibat digitalisasi.
Teller bank berkurang karena mobile banking dan ATM.
Petugas tiket berubah karena aplikasi dan QR code.
AI hanya menjadi salah satu bagian dari gelombang otomatisasi yang lebih luas.
International Labour Organization atau ILO memberikan perspektif yang membuat pembahasan ini lebih seimbang.
Studi ILO dan NASK pada 2025 memperkirakan sekitar satu dari empat pekerjaan di dunia mempunyai tingkat paparan tertentu terhadap generative AI.
Namun kesimpulan pentingnya justru bahwa transformasi pekerjaan lebih mungkin terjadi dibandingkan penggantian pekerja secara penuh.
Alasannya sederhana.
Sebuah profesi terdiri dari banyak tugas.
AI mungkin dapat mengerjakan tiga dari sepuluh tugas seseorang, tetapi belum tentu mampu mengambil seluruh profesinya.
Seorang akuntan dapat menggunakan AI untuk membaca invoice tetapi tetap harus melakukan analisis.
Desainer menggunakan AI membuat konsep tetapi tetap menentukan arah visual.
Sekretaris menggunakan AI membuat rangkuman tetapi tetap mengatur komunikasi dan menyelesaikan persoalan yang tidak terstruktur.
Jadi yang pertama hilang sering kali bukan nama pekerjaannya, melainkan sebagian tugas rutin di dalam pekerjaan tersebut.
Perubahan teknologi mempunyai dua sisi.
WEF memperkirakan beberapa pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat hingga 2030 meliputi Big Data Specialists, FinTech Engineers, AI and Machine Learning Specialists, serta Software and Applications Developers.
Pekerjaan teknologi bukan satu-satunya yang tumbuh.
Environmental Engineers, Renewable Energy Engineers dan Autonomous and Electric Vehicle Specialists juga berada dalam daftar pekerjaan dengan pertumbuhan cepat.
Dalam jumlah absolut, pekerjaan seperti pekerja pertanian, pengemudi pengiriman, pekerja konstruksi, tenaga penjualan, tenaga keperawatan dan guru juga diperkirakan menciptakan banyak kesempatan kerja baru.
Jadi masa depan pekerjaan tidak seluruhnya menjadi pekerjaan programmer.
Mungkin angka yang lebih penting bagi pekerja bukan jumlah profesi yang menurun.
WEF memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan utama yang dibutuhkan pekerja akan berubah pada 2030.
Ini berarti bahkan orang yang pekerjaannya tidak masuk dalam daftar 15 tetap perlu belajar.
Akuntan perlu memahami software dan analisis data.
Guru perlu memahami teknologi pendidikan.
Desainer perlu belajar AI dan art direction.
Staf administrasi perlu belajar otomasi workflow.
Sales perlu memahami CRM dan pemasaran digital.
Kemampuan menggunakan teknologi akhirnya dapat menjadi pembeda antara pekerja yang tergantikan oleh otomatisasi dan pekerja yang menggunakan otomatisasi untuk bekerja lebih baik.
Tahun 2030 tidak terlalu jauh.
Namun daftar WEF seharusnya tidak dibaca sebagai hitung mundur bahwa 15 profesi akan tiba-tiba lenyap.
Pekerjaan biasanya berubah secara bertahap.
Perusahaan mengurangi tugas manual.
Software mengambil pekerjaan rutin.
Satu pegawai menggunakan teknologi untuk mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang.
Kemudian kemampuan yang dibutuhkan ketika merekrut ikut berubah.
Itulah mengapa upskilling dan reskilling menjadi penting. WEF menyebut pembelajaran berkelanjutan akan menjadi prioritas karena keterampilan tenaga kerja terus berubah.
Bagi pekerja, pertanyaan terbaik mungkin bukan:
“Apakah AI akan mengambil pekerjaan saya?”
Melainkan:
“Bagian mana dari pekerjaan saya yang bisa dilakukan AI, dan kemampuan apa yang harus saya kuasai agar saya tetap lebih berharga daripada tugas yang dapat diotomatisasi?”
Sebab sampai 2030, dunia memang diperkirakan kehilangan jutaan jenis posisi lama.
Tetapi pada saat bersamaan, dunia juga diperkirakan menciptakan lebih banyak pekerjaan baru daripada jumlah yang tergeser.
Yang berubah bukan hanya jumlah pekerjaan.
Yang berubah adalah pekerjaan apa yang dihargai dan kemampuan apa yang dibutuhkan untuk mengerjakannya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir