Berita
Hilmi An Naufal

50 SMK di DIY Gandeng Industri, Siswa Dapat Proyek dan PKL Terstruktur

50 SMK di DIY Gandeng Industri, Siswa Dapat Proyek dan PKL Terstruktur

22 Agustus 2026 | 22:13

Siswa perlu diberikan tanggung jawab nyata, bukan hanya mengikuti instruksi tanpa memahami tujuan pekerjaan.

Sekolah juga perlu membangun budaya keselamatan kerja dan etika profesional sejak awal. Siswa harus memahami pentingnya menjaga alat, mematuhi prosedur, melindungi data perusahaan, dan menyelesaikan tugas sesuai standar.

Peluang Rekrutmen Tetap Bergantung pada Kompetensi

Kerja sama antara SMK dan industri membuka peluang bagi perusahaan untuk mengenali calon tenaga kerja sejak masa pendidikan. Siswa dengan kinerja baik selama PKL atau proyek industri berpeluang mendapatkan informasi rekrutmen setelah lulus.

Meski demikian, peluang rekrutmen bukan jaminan bahwa semua lulusan akan langsung diterima bekerja. Perusahaan tetap dapat menerapkan seleksi berdasarkan kompetensi, kebutuhan tenaga kerja, hasil penilaian, dan persyaratan lainnya.

Keberhasilan kemitraan nantinya perlu dilihat dari pelaksanaan program secara nyata. Indikatornya dapat berupa kesesuaian tempat PKL, peningkatan kompetensi siswa dan guru, keterlibatan praktisi, jumlah proyek industri, sertifikasi, serta penyerapan lulusan.

Kerja sama yang berhenti pada penandatanganan dokumen tidak akan memberikan banyak perubahan bagi siswa. Karena itu, sekolah dan perusahaan perlu menyusun jadwal kegiatan, target, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi berkala.

Jika dilaksanakan secara konsisten, kolaborasi 50 SMK di DIY dengan dunia industri dapat menjadi langkah penting untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan sekolah dan kebutuhan pekerjaan yang terus berkembang.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna