Ali menggenggam tangan istrinya, lalu berkata lirih,
"Wahai putri Rasulullah kenapa engkau terlihat begitu tenang hari ini? Padahal tubuhmu tak sanggup lagi berdiri."
Fatimah tersenyum lemah.
"Wahai Ali aku tahu, saatku tak lama lagi. Aku telah rindu kepada ayahku. Aku ingin segera berkumpul dengannya."
Ali menunduk. Air matanya jatuh tak terbendung. Beberapa kali ia terpaksa pergi keluar hanya untuk menyembunyikan tangisnya. la tak kuat melihat istri tercintanya perlahan-lahan melemah.
Fatimah melanjutkan
"Wahai Ali, aku ingin sesuatu darimu sebelum aku wafat
Ali menjawab cepat,
"Apa saja, wahai Fatimah. Katakanlah
Fatimah berkata
"Kafani aku dengan kain yang pernah digunakan ayahku.
Jangan biarkan orang-orang yang menyakitiku semasa hidupku
hadir di pemakamanku. Dan tolong, kuburkan aku di malam hari
Ali hanya bisa menangis la mengangguk pelan dan tak kuasa menjawab
Tak lama kemudian, Fatimah memanggil Hasan dan Husein yang masih kecil
Fatimah merangkul mereka dan berbisik,
"Wahai putra-putraku maafkan ibumu. Ibu harus pergi menyusul kakek kalian. Tapi ingatlah shalatlah kalian, taatilah ayah kalian, dan teruslah mencintai Allah dan Rasul-Nya."
Hasan bertanya sambil menangis
"Ummi kenapa engkau berkata begitu? Engkau hendak ke mana? Jangan pergi, Ummi
Husein memeluk pinggang ibunya sambil berkata,
"Ummi, jangan tidur... bangunlah, jangan tinggalkan kami!"
Tangisan dua anak kecil itu menambah luka di hati Ali. la segera bangkit dan pergi ke sudut rumah. la tak kuat menahan gejolak hatinya.
Tak lama, Fatimah berkata,
"Ali... aku ingin bertemu Tuhanku dalam keadaan suci. Tolong mandikan aku nanti, ya. Seperti ayahku dulu dimandikan."
Ali menangis. la terjatuh dan hampir pingsan karena tak kuasa membayangkan dunia tanpa Fatimah.
Beberapa saat kemudian, Fatimah mengambil air wudhu, lalu
berbaring menghadap kiblat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir