Sejarah
Admin

Air Mata Fatimah Az-Zahra: Kisah Pilu Putri Rasulullah yang Menyentuh Hati

Air Mata Fatimah Az-Zahra: Kisah Pilu Putri Rasulullah yang Menyentuh Hati

05 Juli 2025 | 06:49

Wajah Fatimah pucat, tapi matanya tetap memancarkan keteguhan.

 

Ali menggenggam tangan istrinya, lalu berkata lirih,

 

"Wahai putri Rasulullah kenapa engkau terlihat begitu tenang hari ini? Padahal tubuhmu tak sanggup lagi berdiri."

 

Fatimah tersenyum lemah.

 

"Wahai Ali aku tahu, saatku tak lama lagi. Aku telah rindu kepada ayahku. Aku ingin segera berkumpul dengannya."

 

Ali menunduk. Air matanya jatuh tak terbendung. Beberapa kali ia terpaksa pergi keluar hanya untuk menyembunyikan tangisnya. la tak kuat melihat istri tercintanya perlahan-lahan melemah.

 

Fatimah melanjutkan

 

"Wahai Ali, aku ingin sesuatu darimu sebelum aku wafat

 

Ali menjawab cepat,

 

"Apa saja, wahai Fatimah. Katakanlah

 

Fatimah berkata

 

"Kafani aku dengan kain yang pernah digunakan ayahku.

 

Jangan biarkan orang-orang yang menyakitiku semasa hidupku

hadir di pemakamanku. Dan tolong, kuburkan aku di malam hari

 

Ali hanya bisa menangis la mengangguk pelan dan tak kuasa menjawab

 

Tak lama kemudian, Fatimah memanggil Hasan dan Husein yang masih kecil

 

Fatimah merangkul mereka dan berbisik,

 

"Wahai putra-putraku maafkan ibumu. Ibu harus pergi menyusul kakek kalian. Tapi ingatlah shalatlah kalian, taatilah ayah kalian, dan teruslah mencintai Allah dan Rasul-Nya."

 

Hasan bertanya sambil menangis

 

"Ummi kenapa engkau berkata begitu? Engkau hendak ke mana? Jangan pergi, Ummi

 

Husein memeluk pinggang ibunya sambil berkata,

 

"Ummi, jangan tidur... bangunlah, jangan tinggalkan kami!"

 

Tangisan dua anak kecil itu menambah luka di hati Ali. la segera bangkit dan pergi ke sudut rumah. la tak kuat menahan gejolak hatinya.

 

Tak lama, Fatimah berkata,

 

"Ali... aku ingin bertemu Tuhanku dalam keadaan suci. Tolong mandikan aku nanti, ya. Seperti ayahku dulu dimandikan."

 

Ali menangis. la terjatuh dan hampir pingsan karena tak kuasa membayangkan dunia tanpa Fatimah.

 

Beberapa saat kemudian, Fatimah mengambil air wudhu, lalu

berbaring menghadap kiblat.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 3
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Sejarah

Komentar Pengguna