Dalam kondisi tertentu, anak mungkin merasa frustrasi karena tidak memiliki kendali atas keputusan yang dibuat orang tua. Memberikan pilihan sederhana dapat membantu mengurangi perasaan tersebut.
Orang tua tidak perlu memberikan terlalu banyak alternatif. Cukup tawarkan dua pilihan yang keduanya masih sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan.
Misalnya, ketika anak ingin membaca pada waktu tertentu, orang tua bisa menawarkan pilihan membaca sekarang atau setelah makan.
Dengan cara ini, anak tetap mempunyai kesempatan menentukan pilihan, sementara orang tua tetap memegang batasan yang diperlukan.
Ketika menghadapi anak tantrum, kekerasan fisik maupun ancaman sebaiknya tidak digunakan sebagai cara untuk menghentikan perilaku tersebut.
Memukul, mencubit, membentak, atau menakut-nakuti anak bukan pendekatan yang membantu mereka memahami dan mengelola emosi dengan baik.
Orang tua tetap perlu memberikan batasan terhadap perilaku yang tidak dapat diterima. Namun, batas tersebut dapat disampaikan secara jelas dengan sikap tegas tanpa kekerasan.
Anak perlu belajar bahwa merasa marah atau kecewa merupakan hal yang dapat terjadi, tetapi cara mengekspresikan emosi tetap memiliki batas.
Setelah emosi anak mulai menurun, orang tua dapat mengenalkan cara sederhana untuk membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks.
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah latihan pernapasan. Ajak anak menarik napas secara perlahan, kemudian mengeluarkannya dengan tenang.
Orang tua dapat melakukannya bersama anak sebagai contoh. Cara ini mungkin tidak langsung berhasil pada setiap situasi, tetapi dapat dikenalkan sebagai salah satu keterampilan untuk menghadapi emosi yang kuat.
Semakin sering dilatih ketika suasana sedang tenang, anak dapat semakin mengenal cara tersebut dan menggunakannya ketika mulai merasa kewalahan.
Baca Juga: Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Buka Sayembara Surat Santri untuk Presiden
Menghadapi tantrum membutuhkan kesabaran dari orang tua. Tidak setiap ledakan emosi dapat berhenti dalam waktu singkat, sehingga orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk menenangkan diri sambil tetap memastikan batasan yang diperlukan.
Memahami penyebab tantrum, mengakui perasaan anak, memberikan pilihan sederhana, serta menghindari bentakan dan kekerasan merupakan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan.
Ketika kondisi sudah lebih tenang, orang tua dapat membantu anak membicarakan apa yang terjadi. Anak secara bertahap dapat belajar bahwa marah, kecewa, dan frustrasi merupakan bagian dari emosi yang perlu dikenali dan disampaikan dengan cara yang tepat.
Dengan pendampingan yang konsisten, tujuan menghadapi tantrum bukan hanya membuat anak berhenti menangis atau berteriak. Lebih dari itu, orang tua dapat membantu anak membangun kemampuan untuk mengenali perasaan, mengungkapkannya, dan belajar menenangkan diri ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan keinginannya.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir