Aturan penggunaan gawai akan lebih efektif apabila diterapkan secara konsisten.
Orang tua dapat menentukan waktu tertentu kapan anak boleh menggunakan perangkat dan kapan gawai harus disimpan. Misalnya, tidak menggunakan gawai saat makan, belajar, berkumpul bersama keluarga, atau menjelang tidur.
Yang tidak kalah penting, orang tua juga perlu memberikan contoh. Sulit meminta anak mengurangi penggunaan gawai jika orang tua sendiri terus-menerus menggunakan telepon pintar di hadapan mereka.
Dengan aturan yang jelas dan keteladanan dari orang dewasa, anak akan lebih mudah memahami pentingnya menggunakan teknologi secara seimbang.
Gawai sebenarnya tidak selalu memberikan dampak buruk bagi anak. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran, mencari informasi, berkomunikasi, maupun menikmati hiburan yang sesuai usia.
Persoalan muncul ketika penggunaan gawai tidak lagi terkendali dan mulai mengganggu kebutuhan dasar anak.
Karena itu, tujuan utama pembatasan screen time bukan menjauhkan anak dari teknologi sepenuhnya, melainkan mengajarkan mereka menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Baca Juga: TPG Agustus 2026 Makin Dekat! Guru Wajib Cek 5 Data Ini Sebelum Proses Validasi Dimulai
Kecanduan gawai pada anak perlu menjadi perhatian orang tua karena penggunaan perangkat secara berlebihan dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pola tidur, konsentrasi belajar, aktivitas fisik, kesehatan mata, hingga interaksi sosial.
Mencegah ketergantungan dapat dilakukan dengan menetapkan batas screen time, menciptakan aktivitas alternatif, membangun aturan penggunaan gawai yang konsisten, serta memberikan contoh langsung kepada anak.
Jika anak sudah terlanjur menggunakan gawai terlalu lama, proses pengurangan dapat dilakukan secara bertahap. Dengan pendampingan yang konsisten, anak dapat kembali menemukan keseimbangan antara dunia digital dan aktivitas nyata yang mendukung tumbuh kembangnya.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir