Di sisi lain, budaya diskusi yang sehat juga belum merata. Literasi tidak berhenti pada membaca, tetapi juga berbicara dan menulis tentang apa yang dibaca. Jika tidak ada ruang untuk bertukar pikiran tanpa takut disalahkan atau dihakimi, minat untuk menggali bacaan lebih dalam pun bisa memudar.
Ironisnya, kita hidup di negeri yang kaya cerita, gagasan, dan pengalaman. Dari sejarah panjang hingga dinamika sosial yang kompleks, bahan bacaan sebenarnya melimpah. Namun tanpa ekosistem yang mendukung, keluarga, sekolah, komunitas, dan kebijakan publik, kebiasaan literasi sulit tumbuh.
Jadi, apakah benar kita malas literasi? Atau justru belum sepenuhnya dibiasakan, difasilitasi, dan didorong untuk mencintainya?
Menyederhanakan masalah menjadi “malas” sering kali membuat kita berhenti berpikir. Padahal perubahan dimulai dari kesadaran bahwa literasi adalah proses jangka panjang. Ia dibangun perlahan, melalui teladan, akses yang memadai, dan suasana yang membuat membaca terasa menyenangkan, bukan membebani.
Barangkali yang perlu kita ubah bukan hanya kebiasaan individu, tetapi juga cara kita memandang literasi itu sendiri. Ia bukan sekadar aktivitas sunyi di sudut ruangan, melainkan fondasi untuk berpikir jernih, mengambil keputusan bijak, dan memahami dunia dengan lebih utuh. Dan itu jelas bukan perkara malas atau rajin semata.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir