keboncinta.com- Setiap siswa memiliki tingkat kesiapan belajar, pengalaman, dan kebutuhan pembelajaran yang berbeda. Oleh karena itu, guru perlu merancang kegiatan yang memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai kemampuan masing-masing.
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pembelajaran berdiferensiasi, yaitu penyesuaian strategi pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa.
Pendekatan ini dapat dituangkan dalam modul ajar atau dokumen perencanaan pembelajaran yang digunakan guru.
Berikut contoh sederhana modul ajar berdiferensiasi untuk sekolah dasar beserta langkah penyusunannya.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang mempertimbangkan keberagaman kebutuhan peserta didik dalam proses belajar.
Guru dapat menyesuaikan dukungan, aktivitas, sumber belajar, maupun cara siswa menunjukkan pemahamannya.
Tujuannya bukan membuat pembelajaran yang sepenuhnya berbeda untuk setiap anak, melainkan menyediakan pengalaman belajar yang sesuai agar seluruh siswa dapat mencapai tujuan yang ditetapkan.
Penyesuaian sebaiknya didasarkan pada bukti kebutuhan belajar, bukan label kemampuan yang bersifat permanen.
Dalam menyusun perangkat pembelajaran, guru dapat mencantumkan beberapa bagian utama:
Susunan dokumen dapat menyesuaikan ketentuan sekolah dan panduan pembelajaran yang digunakan.
Baca Juga: Cara Membuat Modul Ajar untuk Guru, Lengkap dengan Komponen, Langkah, dan Contoh Format
Berikut contoh rancangan praktis untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Topik: Memahami informasi dalam teks bacaan pendek.
Kelas: 3 SD.
Alokasi waktu: Dua jam pelajaran, disesuaikan dengan jadwal sekolah.
Tujuan pembelajaran: Setelah mengikuti pembelajaran, siswa mampu mengidentifikasi informasi utama dalam bacaan sederhana dan menyampaikan kembali isi teks dengan bahasanya sendiri.
Media pembelajaran: Teks bacaan, kartu pertanyaan, gambar, dan lembar aktivitas.
Contoh ini perlu diselaraskan kembali dengan Capaian Pembelajaran yang berlaku.
Guru memulai kegiatan dengan memberikan teks pendek dan mengamati kemampuan siswa.
Asesmen dapat dilakukan melalui membaca nyaring, menjawab pertanyaan lisan, atau menceritakan isi bacaan.
Hasilnya digunakan untuk menentukan bentuk bantuan yang diperlukan.
Guru tidak perlu mengumumkan kelompok kemampuan siswa secara terbuka.
Berdasarkan asesmen awal, guru dapat merancang tiga bentuk dukungan.
Kelompok dengan Kebutuhan Pendampingan Intensif
Siswa memperoleh teks pendek yang didampingi gambar. Guru membantu mengenalkan kosakata dan membimbing proses membaca.
Kelompok yang Membutuhkan Latihan Terarah
Siswa membaca teks sederhana kemudian menjawab pertanyaan mengenai tokoh, tempat, atau kejadian.
Kelompok yang Siap Mendapat Tantangan
Siswa membaca teks yang lebih kompleks, menemukan informasi penting, dan menjelaskan hubungan antarperistiwa.
Pengelompokan bersifat sementara dan dapat berubah berdasarkan perkembangan belajar.
Pelaksanaan kegiatan dapat diatur dalam tiga tahap.
Pendahuluan
Guru menyampaikan tujuan dan menghubungkan materi dengan pengalaman siswa.
Kegiatan Inti
Siswa mengikuti aktivitas membaca sesuai kebutuhan dukungan. Guru berkeliling memberikan bimbingan dan mengamati proses belajar.
Penutup
Siswa menyampaikan hasil pembelajaran, kemudian guru memberikan umpan balik.
Kegiatan tidak harus dilaksanakan dengan tiga kelompok tetap. Guru dapat menggunakan pembelajaran berpasangan atau pendampingan individual sesuai situasi kelas.
Asesmen digunakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan, bukan hanya menghasilkan nilai angka.
Guru dapat menggunakan indikator seperti:
Bukti belajar dapat diperoleh melalui jawaban tertulis, penjelasan lisan, atau kegiatan lain yang sesuai.
Walaupun bentuk tugas dapat berbeda, tingkat pencapaian tetap harus dinilai berdasarkan tujuan pembelajaran yang jelas.
Setelah pembelajaran, guru memeriksa hasil asesmen.
Siswa yang masih membutuhkan bantuan dapat mengikuti latihan membaca terbimbing.
Siswa yang telah mencapai tujuan dapat memperoleh kegiatan pengayaan, seperti membandingkan dua bacaan atau membuat pertanyaan baru.
Guru juga perlu mengevaluasi efektivitas strategi pembelajaran yang digunakan.
Baca Juga: Asesmen Sumatif Bukan Sekadar Nilai, Ini Perannya dalam Pembelajaran
Beberapa hal yang perlu dihindari adalah membuat kelompok kemampuan permanen, memberikan tugas berbeda tanpa tujuan yang jelas, serta menyamakan diferensiasi dengan pemberian beban tugas lebih banyak kepada siswa yang sudah mahir.
Perencanaan pembelajaran yang baik perlu menghubungkan tujuan, asesmen, dan pengalaman belajar.
Dengan penyesuaian yang tepat, modul ajar dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan siswa.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir