Doa, Maaf, dan Kesadaran

Doa, Maaf, dan Kesadaran

03 Juli 2025 | 02:21

Meminta doa bukan hanya soal spiritual. Itu juga tentang membangun jembatan batin. Dan meminta maaf bukan hanya urusan etika, tapi juga tanda bahwa kita masih punya nurani yang hidup.

 

Dan jika seseorang sulit sekali melakukannya, mungkin bukan karena dia terlalu kuat untuk merendah, tapi terlalu takut untuk mengakui bahwa ia juga manusia biasa.

 

Sebab yang paling tragis dari hubungan manusia bukan perbedaan pendapat atau konflik, tapi ketika salah satu merasa tak perlu menyentuh hati orang lain, karena merasa dirinya selalu benar.

 

Padahal doa dan maaf itu seperti air. Ia mengalir dari hati yang tulus, dan membersihkan jalan yang tadinya penuh debu kesalahpahaman. Tapi kalau tak ada yang mau membuka kran, kita akan terus hidup dalam kehausan batin—di tengah banjir gengsi yang menenggelamkan jiwa kita sendiri.  dwy Sadoellah 

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:

Komentar Pengguna