"Setidaknya, mereka terbiasa bercakap-cakap dengan ayah mereka." "Karena pengaruh budaya Jawa, anak-anak seringkali kesulitan untuk terlibat dalam percakapan santai dengan ayah mereka," jelasnya.
Tidak harus dengan ayah, tetapi ada kepuasan tersendiri yang menyertainya. Di Antara Anak-Anak
Yoelianto, yang berasal dari Yogyakarta, memiliki perspektif yang unik. Seorang ayah dari siswa kelas 10 berpendapat bahwa ia tidak perlu mengantar anak-anaknya ke sekolah. Ia selalu mengantar anak-anaknya ke sekolah.
"Menurut saya, tidak harus ayah yang mengantar; ini hanya masalah kondisi." "Jika ayah tidak bisa mengantar mereka, ibu bisa menggantikan, begitu pula sebaliknya," ujarnya.
"Karena istri saya sibuk mengurus rumah tangga dan anak kedua kami, kecuali saya sedang pergi bekerja," tambahnya.
Ia percaya ada kebahagiaan tersendiri dalam pengalaman mengantar anak-anak saya ke sekolah.
"Saya menemukan kebahagiaan tersendiri dalam mengantar anak-anak saya ke sekolah, sebuah keistimewaan yang tidak semua ayah bisa nikmati, mungkin karena komitmen pekerjaan yang membuat mereka jauh dari keluarga," ungkapnya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir