Khazanah
Hilmi An Naufal

Guru Ubah Cara Mengajar Menulis, Murid yang Sering Menangis Mulai Lebih Percaya Diri

Guru Ubah Cara Mengajar Menulis, Murid yang Sering Menangis Mulai Lebih Percaya Diri

22 Agustus 2026 | 13:11

Murid tidak hanya diminta menerima atau menyalin informasi, tetapi memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan materi yang dipelajari.

Kemampuan menulis menjadi salah satu cara untuk melihat pemahaman anak. Namun, penilaian tidak seharusnya hanya berfokus pada banyaknya catatan atau kecepatan anak menyelesaikan tugas.

Guru juga perlu memperhatikan perkembangan cara anak menyampaikan gagasan, keterbacaan tulisan, kenyamanan ketika menggunakan alat tulis, dan keberanian mengikuti kegiatan belajar.

Buku Bisa Diakses Guru dan Orang Tua

Kemendikdasmen menyediakan buku teks dan buku nonteks melalui platform Sistem Informasi Perbukuan Indonesia atau SIBI. Koleksi tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru dan orang tua sebagai bahan pendamping pembelajaran.

Buku Menulis Tanpa Menangis disusun berdasarkan berbagai kasus kesulitan menulis yang ditemukan di sekolah. Persoalan tersebut kemudian disajikan dalam bentuk cerita agar penyebab dan alternatif penanganannya lebih mudah dipahami.

Pengalaman guru di Depok memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari program yang rumit. Memindahkan posisi duduk, mendekatkan materi, mengganti pegangan pensil, atau memberikan tambahan waktu dapat menghasilkan perbedaan.

Hal terpenting adalah menghentikan anggapan bahwa semua anak harus menulis dengan kecepatan dan cara yang sama. Ketika guru memahami kebutuhan murid, kegiatan menulis yang sebelumnya menakutkan dapat berubah menjadi proses belajar yang lebih ramah dan menyenangkan.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna