Kemampuan menulis menjadi salah satu cara untuk melihat pemahaman anak. Namun, penilaian tidak seharusnya hanya berfokus pada banyaknya catatan atau kecepatan anak menyelesaikan tugas.
Guru juga perlu memperhatikan perkembangan cara anak menyampaikan gagasan, keterbacaan tulisan, kenyamanan ketika menggunakan alat tulis, dan keberanian mengikuti kegiatan belajar.
Kemendikdasmen menyediakan buku teks dan buku nonteks melalui platform Sistem Informasi Perbukuan Indonesia atau SIBI. Koleksi tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru dan orang tua sebagai bahan pendamping pembelajaran.
Buku Menulis Tanpa Menangis disusun berdasarkan berbagai kasus kesulitan menulis yang ditemukan di sekolah. Persoalan tersebut kemudian disajikan dalam bentuk cerita agar penyebab dan alternatif penanganannya lebih mudah dipahami.
Pengalaman guru di Depok memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari program yang rumit. Memindahkan posisi duduk, mendekatkan materi, mengganti pegangan pensil, atau memberikan tambahan waktu dapat menghasilkan perbedaan.
Hal terpenting adalah menghentikan anggapan bahwa semua anak harus menulis dengan kecepatan dan cara yang sama. Ketika guru memahami kebutuhan murid, kegiatan menulis yang sebelumnya menakutkan dapat berubah menjadi proses belajar yang lebih ramah dan menyenangkan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir