Masalahnya bukan pada volume speaker. Tapi pada volume hati yang makin sepi. Yang tak tahan mendengar panggilan Tuhan, tapi betah larut dalam irama pesta.
Maka, ketika adzan dianggap mengganggu dan horex dielu-elukan, yang rusak bukan telinga kita—tapi selera batin kita. Yang lelah bukan lingkungan—tapi nurani kita.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir