Dengan pendekatan tersebut, anak perlahan memahami bahwa gagal bukan berarti tidak mampu selamanya. Kegagalan justru dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, orang tua dapat berperan seperti pelatih sekaligus penyemangat bagi anak. Sebagai pelatih, orang tua memberikan arahan, koreksi, dan batasan ketika diperlukan. Sebagai penyemangat, orang tua hadir untuk memberikan dukungan ketika anak mulai kehilangan kepercayaan diri.
Dengan pola asuh yang mendukung growth mindset, anak dapat belajar menghadapi tantangan dengan lebih berani, menerima kegagalan sebagai bagian dari proses, dan terus berusaha mengembangkan kemampuannya.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir