Suku cadang palsu atau berkualitas rendah bisa memiliki kemampuan penyaringan yang tidak sesuai dengan standar produk yang seharusnya.
Filter udara juga termasuk komponen yang secara berkala diganti sehingga masuk dalam kelompok suku cadang yang memiliki permintaan cukup tinggi.
Komponen pencahayaan seperti bohlam dan lampu LED juga dapat ditemukan dalam berbagai versi tiruan.
Masalahnya bukan sekadar umur pakai yang lebih pendek. Lampu dengan kualitas buruk dapat menghasilkan pencahayaan yang tidak sesuai sehingga mengurangi visibilitas pengendara, terutama ketika berkendara malam hari.
Untuk komponen yang berkaitan dengan keselamatan seperti lampu dan rem, konsumen sebaiknya tidak menjadikan harga sebagai satu-satunya pertimbangan.
Pastikan spesifikasi lampu sesuai dengan kendaraan dan pilih produk dari produsen atau penjual yang memiliki reputasi jelas.
Komponen terakhir yang perlu diperhatikan adalah karet wiper.
Wiper bekerja membersihkan air dan kotoran dari kaca depan sehingga pengemudi tetap mendapatkan pandangan yang baik ketika hujan.
Karet wiper berkualitas rendah dapat meninggalkan sapuan yang tidak sempurna, suara berisik, atau bahkan membuat permukaan kaca lebih cepat tergores.
Karena bentuknya sederhana, konsumen mungkin menganggap semua wiper memiliki kualitas yang sama. Padahal, material karet dan konstruksi produk dapat berbeda.
Salah satu masalah utama dalam peredaran spare part palsu adalah kemasannya dapat dibuat menyerupai produk asli.
Tulisan, logo, warna, hingga desain kemasan bisa dibuat sedemikian rupa agar terlihat meyakinkan. Karena itu, konsumen tidak disarankan menentukan keaslian hanya berdasarkan tampilan sekilas.
Mitsubishi Motors Indonesia menyarankan konsumen memperhatikan beberapa aspek ketika membeli suku cadang, termasuk kondisi produk dan kemasannya. Produsen juga menjelaskan bahwa terdapat suku cadang resmi yang diproduksi di Jepang, Thailand maupun secara lokal sesuai produk dan kebutuhan pasar.
Suzuki Indonesia juga mengingatkan bahwa perbedaan antara suku cadang asli dan tiruan dapat diperiksa melalui kualitas kemasan, warna, tulisan, serta identifikasi seperti hologram pada produk tertentu.
Harga menjadi salah satu tanda awal yang bisa membuat konsumen lebih waspada.
Jika sebuah komponen dijual dengan harga yang jauh di bawah harga normal tanpa alasan yang jelas, sebaiknya jangan langsung melakukan pembelian.
Harga murah memang tidak otomatis berarti barang palsu. Bisa saja produk sedang mendapatkan diskon atau merupakan produk aftermarket resmi. Namun, perbedaan harga yang terlalu ekstrem patut diperiksa lebih lanjut.
Konsumen dapat membandingkan harga melalui dealer, bengkel resmi, distributor, dan toko yang memiliki reputasi baik.
Sebelum membeli, luangkan waktu untuk memeriksa kemasan.
Perhatikan apakah cetakan terlihat jelas, terdapat kesalahan tulisan, segel masih utuh, dan informasi produk sesuai dengan komponen yang dibeli.
Pada beberapa produk, produsen menyediakan kode, nomor seri, barcode, atau fitur autentikasi tertentu. Jika tersedia, gunakan fasilitas tersebut untuk melakukan pengecekan.
Jangan pula mengabaikan kondisi fisik barang. Finishing yang kasar, tulisan yang tidak rapi, material yang terlihat berbeda, atau detail produk yang tidak sesuai dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tempat membeli juga memiliki peran penting.
Untuk komponen yang berkaitan langsung dengan keselamatan seperti kampas rem, konsumen sebaiknya mempertimbangkan jaringan bengkel atau dealer resmi.
Jika membeli melalui marketplace, perhatikan reputasi toko, ulasan pembeli, garansi, serta informasi mengenai asal barang.
Konsumen juga dapat meminta faktur atau bukti pembelian. Dokumen tersebut akan berguna apabila nantinya terjadi masalah dengan produk.
Pemerintah sendiri memiliki sistem Indonesian Market Surveillance (INAMS) yang digunakan untuk mempublikasikan barang beredar yang tidak sesuai standar atau berpotensi merugikan konsumen. Masyarakat juga dapat menyampaikan pengaduan terkait produk melalui sistem tersebut.
Hal lain yang juga perlu dipahami konsumen adalah perbedaan antara spare part palsu dan aftermarket.
Produk aftermarket tidak otomatis merupakan barang palsu. Produk aftermarket dapat dibuat oleh produsen selain pabrikan kendaraan, selama memang dipasarkan secara sah dan memenuhi spesifikasi atau standar yang berlaku.
Yang perlu diwaspadai adalah produk yang menggunakan merek atau identitas pihak lain secara tidak sah dan dibuat seolah-olah merupakan produk resmi.
Karena itu, jangan langsung menganggap semua komponen non-dealer sebagai barang palsu.
Membeli suku cadang kendaraan bukan hanya soal mendapatkan barang dengan harga murah.
Komponen seperti kampas rem, ban, aki, busi, filter, dan berbagai bagian mesin mempunyai fungsi masing-masing. Kesalahan memilih produk dapat berdampak pada performa kendaraan, biaya perawatan, bahkan keselamatan.
Langkah paling sederhana adalah membeli dari sumber yang terpercaya, memeriksa identitas produk, membandingkan harga secara wajar, dan tidak mudah tergoda oleh penawaran yang terlalu murah.
Pada akhirnya, menghemat beberapa puluh atau ratus ribu rupiah dari spare part belum tentu menjadi keputusan yang menguntungkan jika komponen tersebut justru membuat kendaraan mengalami masalah lebih besar.
Bagi pemilik mobil maupun sepeda motor, ketelitian sebelum membeli jauh lebih murah dibandingkan biaya memperbaiki kerusakan yang muncul akibat komponen yang tidak berkualitas.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir