Budaya
Azzahra Esa Nabila

Kaya Bahasa, Kaya Budaya, Tapi Mengapa Literasi Kita Masih Tertinggal?

Kaya Bahasa, Kaya Budaya, Tapi Mengapa Literasi Kita Masih Tertinggal?

27 Februari 2026 | 12:17

Padahal kemampuan berpikir mendalam justru lahir dari proses membaca yang tidak tergesa-gesa.

Namun bukan berarti harapan itu kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan literasi mulai tumbuh di berbagai komunitas. Taman baca masyarakat bermunculan, klub buku aktif di media sosial, penulis muda semakin banyak, dan penerbit independen berani menghadirkan karya-karya alternatif. Di banyak kota kecil, diskusi buku dan kelas menulis justru berkembang dengan semangat yang menginspirasi.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan cerita. Kita memiliki ribuan kisah, sejarah panjang, dan keragaman budaya yang tak ternilai. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan kekayaan itu tidak hanya hidup dalam tradisi lisan, tetapi juga terdokumentasi, dibaca, dan dipahami secara luas.

Literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca huruf, melainkan fondasi berpikir kritis dan kemajuan bangsa. Negara yang kuat secara budaya seharusnya juga kuat dalam tradisi membaca dan menulis. Karena dari situlah gagasan lahir, perdebatan sehat tumbuh, dan inovasi berkembang.

Mungkin kita memang kaya bahasa dan budaya. Tapi, jadikanlah kekayaan itu sebagai bahan bakar untuk memperkuat literasi, bukan sekadar kebanggaan yang diulang-ulang tanpa upaya nyata. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang punya banyak cerita, melainkan yang mau membaca, menulis, dan merawat ceritanya sendiri.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
budaya indonesia Budaya Literasi Budaya Membaca Pecinta literasi

Komentar Pengguna