Ketika anak berhasil menunggu, menahan keinginan, atau berpikir sebelum bertindak, berikan apresiasi.
Pujian tidak harus berlebihan. Kalimat sederhana seperti, “Tadi kamu mau menunggu giliran, itu bagus,” dapat membantu anak memahami perilaku positif yang baru saja dilakukannya.
Fokuskan apresiasi pada usaha dan proses, bukan hanya hasil akhir. Dengan begitu, anak terdorong untuk terus berlatih.
Anak yang sering tidak sabar atau bertindak spontan tidak selalu berarti memiliki masalah tertentu. Perkembangan kontrol diri setiap anak dapat berbeda dan perilaku juga dipengaruhi oleh usia, lingkungan, pengalaman, serta situasi yang sedang dihadapi.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan label seperti “nakal”, “tidak bisa diatur”, atau “tidak punya kesabaran”.
Lebih baik melihat perilaku tersebut sebagai keterampilan yang masih perlu dilatih. Jika kesulitan mengendalikan impuls sangat sering terjadi, menetap, mengganggu kegiatan belajar maupun hubungan sosial, atau menimbulkan risiko keselamatan, orang tua dapat mendiskusikannya dengan tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
Membangun kontrol diri membutuhkan proses yang panjang. Anak mungkin berhasil menunggu hari ini, tetapi kembali kesulitan pada kesempatan berikutnya. Hal tersebut merupakan bagian dari proses belajar.
Orang tua dapat membantu dengan memberikan contoh, menetapkan batasan yang konsisten, memberi kesempatan untuk berlatih, serta mengapresiasi setiap kemajuan kecil.
Baca Juga: RAPBN 2027 Bawa Fokus Baru untuk Pendidikan, Rp820,9 Triliun Disiapkan untuk Beragam Program
Pada akhirnya, tujuan melatih kesabaran bukan membuat anak selalu diam dan menurut. Yang lebih penting adalah membantu anak belajar berhenti sejenak, memahami perasaan, mempertimbangkan pilihan, dan memikirkan konsekuensi sebelum bertindak.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir