Tapi masyarakat — ya, masyarakat kita yang sering salah kaprah tapi malas cari tahu — merasa paling benar karena sudah transfer uang. Maka mereka berhak marah ke siapa saja yang terlihat. Kurir menjadi representasi dari segala kekeliruan toko online. Seolah ia punya andil dalam memilih warna sepatu yang meleset tiga tone, atau memastikan ukuran celana dari Tiongkok tidak membuat paha Anda tercekik.
Ironisnya, semakin gaptek seseorang, biasanya makin tinggi kadar emosinya. Tidak tahu cara retur? Marah ke kurir. Tidak bisa hubungi seller? Telepon kurir terus-terusan. Barang belum datang padahal baru pesan sejam lalu? Tulis status: “Ngeri banget pengiriman sekarang, janji sehari tapi nyatanya dua hari.” Padahal jaraknya lintas provinsi, dan kurir bukan pilot.
Dan kita belum bicara soal risiko kerja kurir: mengantar di tengah hujan, dituduh nyolong paket yang sebenarnya salah alamat, hingga tekanan target harian dari perusahaan. Tapi tentu semua itu tidak penting di mata pembeli yang merasa kerajaan daring ini harus sesuai keinginannya.
Maka, lain kali jika kurir datang ke rumah Anda, mohon jangan langsung bertingkah seperti raja yang melihat pembantu telat menyajikan teh. Tidak semua masalah di dunia ini adalah tanggung jawab orang yang kebetulan berdiri paling dekat.
Kadang, yang Anda butuhkan bukan pengembalian dana. Tapi pengembalian akal sehat.
Dwy Sadoellah
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir