Kurir

Kurir

03 Juli 2025 | 05:07

Bahkan dalam banyak kasus, mereka tidak bisa membuka paket untuk memastikan isinya, karena itu justru pelanggaran etik dan hukum.

 

Tapi masyarakat — ya, masyarakat kita yang sering salah kaprah tapi malas cari tahu — merasa paling benar karena sudah transfer uang. Maka mereka berhak marah ke siapa saja yang terlihat. Kurir menjadi representasi dari segala kekeliruan toko online. Seolah ia punya andil dalam memilih warna sepatu yang meleset tiga tone, atau memastikan ukuran celana dari Tiongkok tidak membuat paha Anda tercekik.

 

Ironisnya, semakin gaptek seseorang, biasanya makin tinggi kadar emosinya. Tidak tahu cara retur? Marah ke kurir. Tidak bisa hubungi seller? Telepon kurir terus-terusan. Barang belum datang padahal baru pesan sejam lalu? Tulis status: “Ngeri banget pengiriman sekarang, janji sehari tapi nyatanya dua hari.” Padahal jaraknya lintas provinsi, dan kurir bukan pilot.

 

Dan kita belum bicara soal risiko kerja kurir: mengantar di tengah hujan, dituduh nyolong paket yang sebenarnya salah alamat, hingga tekanan target harian dari perusahaan. Tapi tentu semua itu tidak penting di mata pembeli yang merasa kerajaan daring ini harus sesuai keinginannya.

 

Maka, lain kali jika kurir datang ke rumah Anda, mohon jangan langsung bertingkah seperti raja yang melihat pembantu telat menyajikan teh. Tidak semua masalah di dunia ini adalah tanggung jawab orang yang kebetulan berdiri paling dekat.

 

Kadang, yang Anda butuhkan bukan pengembalian dana. Tapi pengembalian akal sehat.

Dwy Sadoellah 

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:

Komentar Pengguna