Yang penting jangan sekadar menyalin desain orang lain.
Gunakan brief sebagai masalah yang harus diselesaikan sendiri.
Cocok untuk: mini project, latihan cepat dan memperbanyak karya UI.
Belajar sendiri memiliki satu kelemahan: terkadang kita tidak mengetahui kesalahan yang dilakukan.
Desain bisa terlihat bagus di mata sendiri, tetapi orang yang lebih berpengalaman mungkin langsung menemukan masalah pada navigasi, hierarchy, spacing atau cara case study dijelaskan.
Di sinilah ADPList menjadi menarik.
ADPList menyediakan sesi mentorship satu lawan satu dengan profesional dari bidang design, product, engineering hingga AI. Platform tersebut menyatakan sesi mentorship tersedia gratis karena mentor menyumbangkan waktunya untuk membantu pengguna lain.
Untuk UX Design sendiri tersedia ribuan mentor yang dapat membantu portfolio review, interview preparation, career advice hingga membahas tantangan desain sehari-hari.
Ini sangat berguna setelah mempunyai dua atau tiga proyek.
Daripada terus membuat desain tanpa tahu apakah kualitasnya meningkat, mintalah seseorang meninjau portofolio dan memberikan kritik.
Cocok untuk: portfolio review, mentoring dan persiapan masuk dunia kerja UI/UX.
Tidak perlu membuka tujuh situs sekaligus.
Untuk pemula, alurnya bisa dibuat sederhana.
Mulailah dari Figma Learn untuk memahami tool. Setelah itu pelajari proses UX melalui materi Google UX atau Uxcel.
Ketika dasar mulai dipahami, gunakan Daily UI, Sharpen atau UI Challenges untuk membuat latihan.
Setelah memiliki beberapa karya, susun menjadi case study lalu bawa ke mentor melalui ADPList untuk mendapatkan masukan.
Dengan alur tersebut, proses belajar tidak berhenti pada menonton tutorial.
Anda akan melewati tiga tahap yang jauh lebih penting: belajar, praktik, lalu mendapatkan feedback.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menganggap UI/UX hanya soal desain yang terlihat modern.
UI memang berkaitan dengan tampilan antarmuka, tetapi UX jauh lebih luas.
Seorang desainer perlu memikirkan apakah pengguna memahami tombol yang harus diklik, apakah proses checkout terlalu panjang, apakah ukuran teks mudah dibaca, hingga apakah fitur yang dibuat benar-benar menyelesaikan masalah pengguna.
Karena itu, portofolio yang bagus sebaiknya tidak hanya menampilkan screenshot aplikasi.
Tunjukkan masalahnya, siapa penggunanya, bagaimana proses berpikirnya, mengapa layout tertentu dipilih, apa hasil pengujiannya dan apa yang berubah setelah mendapatkan feedback.
Di situlah kemampuan UI/UX mulai terlihat.
Belajar dari situs gratis memang tidak otomatis membuat seseorang menjadi designer profesional.
Namun untuk memulai, alasan “tidak punya tempat belajar” semakin sulit digunakan.
Tool sudah tersedia. Materi tersedia. Brief latihan tersedia. Bahkan mentor yang bisa memberikan feedback juga dapat ditemukan.
Sisanya tinggal satu hal yang sering justru paling sulit: mulai membuat proyek pertama dan menyelesaikannya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir