Muallaq: Seorang manusia bisa sakit, namun dengan doa dan pengobatan ia bisa sembuh. Sebaliknya, jika lalai menjaga diri, sakitnya bisa bertambah berat.
Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa...” (HR. Tirmidzi). Hadis ini dipahami ulama sebagai penjelasan tentang takdir muallaq, yang bisa berubah karena doa.
Sedangkan takdir mubram ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. Al-A’raf: 34).
Takdir Mubram menanamkan sikap tawakal penuh pada Allah.
Takdir Muallaq mendorong manusia untuk berikhtiar, berdoa, dan tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan.
Pemahaman keduanya membuat seorang muslim seimbang: tidak fatalis (pasrah total tanpa usaha), tetapi juga tidak arogan (merasa bisa mengubah segalanya tanpa izin Allah).
Baca juga : 5 Cara Memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan Amal Shalih
Kemampuan intelektual seseorang memang merupakan anugerah Allah sejak lahir. Namun, pencapaian akademik, kedalaman ilmu, dan keberhasilan dalam studi adalah bagian dari takdir muallaq yang bisa berubah sesuai dengan usaha belajar, doa, dan lingkungan.
Penafsiran Ulama: Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu tidak akan datang hanya dengan berharap, melainkan dengan kesungguhan, ketekunan, dan doa. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi dalam pendidikan adalah bagian dari takdir muallaq.
Kematian adalah takdir mubram (pasti), tetapi kualitas hidup, kesehatan jasmani, dan umur panjang bisa dipengaruhi oleh gaya hidup. Olahraga, pola makan sehat, serta menjauhi maksiat atau kebiasaan buruk menjadi sebab-sebab yang dapat mengubah takdir muallaq seseorang.
Penafsiran Ulama: Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad menulis bahwa menjaga kesehatan, mengobati penyakit, serta doa adalah bentuk ikhtiar yang diperintahkan syariat. Ia menekankan bahwa sebab-sebab duniawi ini adalah bagian dari sunnatullah yang Allah jadikan sebagai pintu perubahan takdir muallaq.
Kesuksesan karier tidak hanya bergantung pada ijazah atau latar belakang, melainkan juga kerja keras, doa, dan keberkahan dari Allah. Dua orang dengan kondisi awal yang sama dapat mencapai hasil berbeda karena usaha, doa, dan kesungguhan mereka.
Penafsiran Ulama: Syaikh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa usaha manusia (kasb) adalah faktor penting dalam rezeki. Allah sudah menetapkan rezeki dasar, tetapi ikhtiar yang halal dan doa yang sungguh-sungguh dapat melapangkan rezeki dan menaikkan derajat seseorang dalam profesinya.
Keharmonisan rumah tangga, persahabatan, maupun hubungan sosial dapat berubah sesuai dengan komunikasi, kasih sayang, doa, dan sikap masing-masing. Takdir muallaq membuka peluang perbaikan dan keberkahan dalam hubungan antarmanusia.
Penafsiran Ulama: Prof. Dr.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir