Perjanjian pranikah dapat memberikan perlindungan bagi pasangan yang memilih menjadi caregiver, seperti:
Jaminan nafkah
Pembagian harta yang adil jika terjadi perceraian
Pengakuan atas kontribusi non-finansial dalam rumah tangga
Dengan begitu, pasangan yang berhenti bekerja tetap memiliki kepastian dan keamanan ekonomi di masa depan.
Membuat perjanjian pranikah tidak bisa dilakukan secara asal. Dokumen ini harus disusun secara legal agar sah dan diakui. Berikut langkah-langkah umumnya:
Sebelum mendatangi pengacara, mulailah dengan percakapan yang jujur dan terbuka. Pastikan kalian membicarakan tujuan dan harapan masing-masing. Komunikasi adalah kunci agar pembahasan tidak menimbulkan konflik.
Setiap pasangan diwajibkan memiliki perwakilan hukum masing-masing. Hal ini untuk memastikan kedua pihak memahami isi kontrak dan tidak ada yang merasa dirugikan.
Perjanjian pranikah yang hanya sekadar dibuat di atas kertas bermaterai biasanya tidak cukup kuat secara hukum dan dapat ditolak oleh hakim jika ada sengketa di masa depan.
Pengacara akan membantu mengidentifikasi poin-poin penting, seperti:
Aset pribadi dan aset bersama
Pengaturan utang
Bisnis atau investasi
Nafkah setelah perceraian
Perlindungan untuk pasangan yang berhenti bekerja
Hak waris
Setiap detail harus disepakati dengan jelas agar tidak menimbulkan ambiguitas.
Setelah isi perjanjian final, kedua pasangan menandatangani dokumen tersebut di hadapan notaris atau pihak berwenang lainnya. Beberapa negara atau daerah juga mengharuskan dokumen ini didaftarkan agar sah secara hukum.
Pada dasarnya, Perjanjian pranikah bukanlah tanda ketidakpercayaan. Justru sebaliknya, dokumen ini dapat menjadi bukti kedewasaan, komitmen, dan kesiapan pasangan untuk memasuki kehidupan pernikahan. Dengan mengatur hal-hal sensitif sejak awal, pasangan dapat menghindari banyak masalah di masa depan dan membangun hubungan yang lebih transparan dan harmonis.
Bukan berarti membuat perjanjian pranikah adalah kewajiban, tetapi menjadi pilihan bijak bagi pasangan yang ingin memulai kehidupan rumah tangga dengan lebih tenang dan terstruktur.
Pada akhirnya, tujuan utama pernikahan adalah kebahagiaan bersama—dan salah satu langkah untuk mencapainya adalah memastikan kedua pihak merasa aman secara emosional maupun finansial.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir